Kenalkan Bahaya Nikah Dini, Sisir Pesantren Putri

Sosialisasi pernikahan di Ponpes An Nur Bululawang, Jumat (18/1)

MALANG – Tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Malang menjadi perhatian serius Pemkab Malang. Karena di sepanjang 2018 (Januari-Desember), data Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Malang mengungkap, dari 24.048 pernikahan, 7.750 di antaranya adalah nikah muda. Jika dipersentase mencapai 32,23 persen.

“Pernikahan dini menjadi ancaman tersendiri. Tidak hanya soal materi dan kebahagiaan, tapi juga kesehatan reproduksinya,” ujar Kepala DP2KB Kabupaten Malang Sri Wahjuni Pudji Lestari usai membuka sosialisasi Contra War (contraceptive for woman at risk) di Pesantren Putri Annur 2 Bululawang, tadi siang (18/1).

Karena menikah muda, lanjutnya, secara ekonomi jelas mayoritas belum mapan. Selain itu, yang lebih berbahaya lagi jika terjadi kehamilan sebelum usia matang. Kondisi itu tidak hanya berpotensi terhadap kesehatan sang ibu, tapi juga janin yang dikandung.

“Kenapa memilih pesantren, karena di sini banyak sekali pemudi-pemudi yang harus tahu lebih dini bagaimana pentingnya kesehatan reproduksi,” beber Yayuk-sapaan akrab Sri Wahjuni Pudji Lestari.



Dan tahun ini, menurut dia, ada sembilan pesantren yang akan disasar untuk pengenalan PIK (Pusat Informasi dan Konseling) Remaja, Insan Genre dan Program Contra War menuju Generasi Emas.

“Sasarannya, sebenarnya bukan hanya pesantren. Tapi juga para remaja usia pranikah. Sosialisasi serupa juga dilakukan ke sekolah-sekolah, hanya saja belum menjangkau semuanya. Kalau sosialisasi di pesantren, ini adalah pertama kalinya,” tukas dia.

Pewarta: Neni Fitrin
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Neni Fitrin