Kemenangan Kotak Kosong Dinilai Bentuk Kekecewaan Masyarakat

Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar

JawaPos.com – Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar menyebut, kemenangan kotak kosong melawan calon tunggal Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) dalam pemilihan Wali Kota (Pilwali) Makassar 2018 adalah bentuk kekecewaan masyarakat.

Pilwali yang memunculkan pertarungan dengan calon tunggal versus kotak kosong, menurutnya kerap disebabkan karena adanya dominasi dari salah satu calon dari seluruh atau mayoritas partai politik. Tak sampai disitu, represi terhadap calon lain yang memiliki bakat dan modal dukungan yang kuat dari masyarakat juga menjadi salah satu faktor penentu.

“Rakyat bukan hanya di Makassar, di seluruh Indonesia juga rakyat sudah muak dengan politisi, muak dengan kelakuan-kelakuan partai. Nah, kotak kosong ini adalah jawaban, jawaban dari masyarakat untuk mengaplikasikan alternatif-alternatif selain dari politisi yang dianggap tidak kompeten mewakili kepentingan masyarakat,” ujar eks Direktur Kontras ini dalam deklarasi koalisi masyarakat untuk kolom kosong di Makassar, Kamis (5/7).

Meskipun hasil resmi dan final baru akan didapati dalam waktu dekat, berdasarkan perhitungan cepat, pihaknya diakui Haris memandang bahwa kemenangan kotak kosong adalah wujud keinginan perubahan masyarakat Makassar dari dominasi oligarki yang direpresentasikan oleh kandidat tunggal. Kondisi ini sekaligus bukti nyata koreksi atas kegagalan partai politik menyerap aspirasi rakyat.



“Atas situasi perlu diigingatkan bahwa partai-partai pendukung calon tunggal harus mawas diri dan melakukan koreksi atas situasi itu. Politik elektoral yang dilakukan secara buruk dan menghalalkan segala cara adalah buruk dan tidak demokratis,” tegasnya.

Pihak Bawaslu dan DKPP ditegaskan Haris harus melakukan evaluasi dan pemeriksaan terhadap institusi ditingkatan daerah Makassar atas tidak profesionalisme mereka mengawal kotak kosong. Sekaligus Bawaslu harus berani melakukan teguran yang serius terhadap institusi-institusi lain yang bermain politik di Makassar, seperti kepolisian.

Di luar itu KPU Makassar juga diimbau untuk jujur, berani dan secara transparan membeberkan apa hasil dari kondisi politik ini. KPU juga lanjut Ashar harus menindaklanjuti semua temuan-temuan masalah yang selama ini mencuat.

“Kalau KPU Makassar tidak berani jujur, tidak berani membela satu kepentingan yang secara jelas-jelas melakukan pelanggaran, buat saya mereka adalah bagian dari kejahatan terhadap pemilu ini, kejahatan terhadap suara rakyat,” terangnya.

Sejauh ini, hingga Kamis (5/7) malam, pleno rekapitulasi suara pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel dan Pilwali Makassar, masih berlangsung di MaxOne Hotel Makassar. Dalam waktu dekat, apabila rampung, pihak KPU akan bakal mengumumkan secara resmi pemenang pilkada baik Gubernur dan Wali Kota Makassar 2018.

(rul/JPC)