Kembalikan Habitat Lobster, Kemas Wisata Live In dengan Penduduk Sekitar

Sepuluh tahun lalu, pesisir laut di kawasan Bowele (Bolu-Bolu, Wedi Awu, Lenggoksono) ekosistem bawah lautnya rusak parah. Hal itu akibat perburuan liar oleh nelayan yang tak bertanggung jawab. Ikhtiar pelestarian yang mulai serius dilakukan pada 2009 silam lewat Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bowele mulai menunjukkan hasil. Seperti apa?

FARIK FAJARWATI

”Dulu nelayan dari Situbondo dan Banyuwangi kalau cari ikan di sini, bukan memakai jaring. Tapi pakai potas, racun, dan bom ikan,” ujar Kasembadan mengawali ceritanya pada koran ini yang berkunjung ke Pantai Lenggoksono beberapa waktu lalu. Pria yang kini menjadi ketua Pokmaswas Bowele ini lantas membeber hancurnya ekosistem bawah laut kala itu. Para nelayan habis-habisan menguras biota laut di kawasan pantai yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo.

Sejak 2009 silam, masyarakat sekitar akhirnya berinisiatif membentuk Pokmaswas Bowele yang merupakan singkatan dari tiga nama pantai itu. Berjarak lebih dari 30 kilometer dari jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, keberadaan pantai-pantai ini relatif kurang dikenal. Hal itu jauh berbeda dengan pantai-pantai lain di wilayah Malang Selatan yang terus menggeliat dan dikunjungi wisatawan.

The Hidden Paradise, begitu kiranya beberapa bulan belakangan ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang menyebut kawasan tersebut. Karena dari upaya konservasi yang dilakukan, pesona alam bawah lautnya terlihat mengagumkan. Tak heran jika kawasan Bowele kian makin banyak dilirik sebagai destinasi wisata. Bahkan di kelas dunia.

Namun, keindahan yang tersaji di Bowele saat ini telah melewati proses dan perjuangan panjang masyarakat setempat. Salah satunya lewat Pokmaswas Bowele. Upaya-upaya konservasi mulai digalakkan sejak 2009. ”Terutama untuk mengembalikan lagi ekosistem bawah laut kami yang sebelumnya kaya akan terumbu karang, ikan hias, dan juga lobster,” kata Badan–sapaan akrab Kasembadan.

Awalnya, upaya konservasi dengan mengembalikan ekosistem bawah laut dilakukan di sekitar perairan Pulau Gadung. ”Kami fokuskan untuk konservasi lobster karena komoditas ini sebelumnya adalah primadona dari laut kami,” kata Badan. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan keberlanjutan ekosistem bawah laut Bowele, jika sebelumnya zona konservasi hanya seluas 5 hektare, kini bisa berkembang menjadi 11 hektare. Pada 2010, Kementerian Kelautan dan Perikanan bahkan secara khusus memberikan penghargaan kepada Pokmaswas Bowele sebagai juara I Lomba Pengawasan Pantai di tingkat Provinsi Jawa Timur.

Tak ingin sendirian, Pokmaswas Bowele juga menggandeng para nelayan di sekitar pesisir pantai untuk ambil peran dalam upaya pelestarian tersebut. Jika sebelumnya mereka ”ikut-ikutan” nelayan dari luar daerah menggali kekayaan laut Bowele secara barbar, perlahan berbagai cara mencari ikan yang berdampak pada kerusakan habitat laut mulai ditinggalkan.

”Alam ini bukan hanya untuk digali manfaatnya, tapi juga dilestarikan,” kata pria yang akrab disapa Pakde Badan tersebut. Perlahan tapi pasti, upaya untuk mengelola alam juga harus mereka turunkan kepada generasi penerusnya. Terutama anak-anak muda. Selain para pencetusnya, kini Pokmaswas Bowele telah memiliki 40 anggota. Mayoritas di antaranya pemuda dan pemudi Bowele.

Gayung bersambut seiring dengan pulihnya habitat bawah laut Bowele, wisatawan pun mulai berdatangan untuk mengeksplor keindahan surga bawah laut. Pantai Lenggoksono, Banyu Anjlok, Pantai Bolu-Bolu belakangan menjadi primadona bagi para wisatawan yang datang ke Tirtoyudo.

Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan peluangnya oleh masyarakat sekitar untuk menggali keuntungan dengan tujuan meningkatkan perekonomian warga. Para nelayan tidak lagi hanya melaut untuk mencari ikan. Namun, juga mengantar jemput para wisatawan untuk menjelajah keindahan bawah laut Bowele.

Semangat untuk mengembalikan kelestarian alam bawah laut itu kini juga telah mendarah daging di kalangan muda Bowele. Agung Triyono, sekretaris Pokmaswas Bowele, termasuk generasi muda yang menjadi penggiat pelestari, putra dari Hari Budiyono, salah satu pencetus konservasi di laut Bowele, itu kini mulai mengembangkan potensi alam yang mereka miliki agar lebih menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Selain Rumah Apung, Banyu Anjlok dan Pantai Bolu-Bolu juga masih menjadi primadona bagi para wisatawan yang datang ke Lenggoksono. ”Kami juga sudah menyiapkan konsep wisata baru bagi wisatawan, jadi selain tour keliling pantai-pantai mereka juga bisa ambil paket wisata kampung Lenggoksono,” sambung Agung.

Tak hanya menikmati keindahan laut Lenggoksono, wisatawan juga bisa merasakan sensasi hidup bersama masyarakat lokal. ”Bisa memetik kopi, menjala ikan di sungai, dan live in atau tinggal bersama dengan penduduk sekitar sini,” beber Agung. Namun bagi yang senang dengan tantangan, tidak perlu risau karena di Pantai Bolu-Bolu, Pokmaswas Bowele juga telah menyiapkan lahan yang khusus diperuntukkan sebagai camping ground.

Sanggar serta sekolah alam pun telah mereka siapkan. ”Kalau suka dengan budaya, di sini kami punya sanggar tempat anak-anak belajar kesenian tradisional, wisatawan bisa ikut belajar juga bersama-sama,” beber pria berusia 30 tahun tersebut.

Teranyar, pengunjung Pantai Lenggoksono kini juga dapat menikmati fasilitas baru, yakni Rumah Apung. Lokasinya berada di seberang Pantai Bolu-Bolu. Karena berada di tengah laut, untuk menjangkau Rumah Apung, pengunjung harus mengendarai perahu. Tarifnya  sepaket dengan tur wisata ke Banyu Anjlok dan Pantai Bolu-Bolu, yakni Rp 60 ribu per orang. Pengunjung bisa berenang atau juga snorkeling untuk menikmati keindahan bawah laut dari kolam yang terdapat di tengah Rumah Apung tersebut.

Rumah Apung ini merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diberikan pada 2018 lalu. Nilainya mencapai Rp 1,5 miliar. Selain bisa menjadi atraksi wisata, Rumah Apung ini juga menjadi pusat konservasi alam di Bowele. ”Terutama untuk melindungi ekosistem bawah air seperti terumbu karang dan ikan-ikan hias,” terang Agung.

Rumah Apung memiliki kapasitas hingga 50 orang. Jika takut harus berenang atau snorkeling di laut lepas, wisatawan pun boleh berenang di dalamnya Rumah Apung sambil berinteraksi dengan ikan-ikan laut yang sengaja dibudidayakan dengan sistem keramba di bawah Rumah Apung.

Besar harapan Pokmaswas Bowele, Pemerintah Kabupaten Malang bisa turut andil dalam pengembangan dan promosi pariwisata di Desa Purwodadi. ”Meskipun sekarang sudah jalan, kami berharap ada masukan agar program-program yang kami jalankan ini bisa bersinergi dengan pemerintah,” tukas Agung.  

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Rubianto