Kelurahan Blimbing-Kecamatan Lowokwaru Juara Otonomi Award 2018

MALANG KOTA – Perhelatan panjang Otonomi Award 2018 berakhir tadi malam (4/7). Dalam acara Malam Puncak Penganugerahan di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) ini telah lahir jawara baru. Jika tahun lalu juara tingkat kelurahan adalah Kelurahan Sawojajar, tahun ini juaranya adalah Kelurahan Blimbing. Predikat juara tingkat kecamatan juga berubah dari yang sebelumnya Kecamatan Blimbing, beralih ke Kecamatan Lowokwaru.

Kelurahan Blimbing dinilai unggul berkat inovasi pelayanan di bidang administrasi dan aneka macam inovasi lain. Seperti gerakan matikan TV (germati) dari pukul 18.00–21.00 WIB, hingga pemanfaatan bioplan energi dari tumbuhan. Ada juga rumah baca gratis di kelurahan ini.

Sedangkan untuk Kecamatan Lowokwaru, kecamatan ini dinilai berdedikasi dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena langkah aktifnya, kecamatan ini menggeser Kecamatan Blimbing yang dua tahun berturut-turut meraih juara satu.

Sedangkan untuk kelurahan terbaik kedua diraih Kelurahan Tunjungsekar yang dikenal dengan industri daur ulang dan pengembangan mebel. Juara ketiga Kelurahan Polowijen yang sejak 2017 lalu mengembangkan Kampung Budaya Polowijen.

Untuk pemenang kategori Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) diraih Zainurahman dari Kelurahan Sukun. Sementara kategori Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Berhasil (LPMP) diraih Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Penanggungan dan kategori motivator pemberdayaan masyarakat diraih Hj Siti Oetami dari Kelurahan Kesatrian. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada sebelas kelurahan yang updating profil desa dan kelurahan (prodeskel) (selengkapnya baca grafis).

Malam penganugerahan tadi malam berlangsung meriah. Selain penampilan The Dance Company yang begitu total dan sempat mengajak Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Sutiaji naik panggung, para pendukung masing-masing kelurahan dan kecamatan juga sangat total. Banyak penonton yang membentangkan spanduk dukungan seperti yang bertuliskan Blimbing Mbois Ilakes, Bolo Penanggungan, dan Mulyorejo Joyo. Selain itu, pendukung dari Kidul Dalem hadir mengenakan baju Arema yang serbabiru, lengkap dengan syal dan drum.

Hadir dalam acara tadi malam (4/7), Plt Wali Kota Malang Sutiaji, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, Dandim 0833 Kota Malang Kolonel Inf Nurul Yakin, Sekkota Wasto, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad, istri Walikota Malang Widayati, dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Hampir semua OPD hadir dalam acara tersebut. Di antaranya kabag pemerintahan Dicky Haryanto, staf ahli walikota bidang politik dan hukum Handi Priyanto, asisten III Kota Malang dr Suprapto MKes, Kepala Dinas Pendidikan Zubaidah, Kasatpol PP Kota Malang Priyadi, Ketua KPU Kota Malang Zaenudin, dan sejumlah pejabat lain.

Plt Wali Kota Malang Sutiaji dalam sambutannya menyatakan, dirinya mengaku bangga dengan kelurahan dan kecamatan di Kota Malang. Inovasi di setiap wilayah menurut Sutiaji berjalan begitu pesat.

”Saya makin semangat melihat lurah dan camat yang bisa mendorong potensi masyarakat dengan rencana tata wilayah mereka,” ucapnya.

Selama ini, Sutiaji selalu mengawasi kemampuan para camat dan lurah. Itu membuatnya takjub, karena banyak lurah dan camat yang sanggup menonjolkan potensi tersembunyi di wilayah mereka.

Cara kreatif para camat dan lurah ini, mendorong Sutiaji dan Pemkot Malang untuk siap mengembangkan inovasi sendiri. Inovasi tersebut berupa sistem terpadu di mana masyarakat bisa membuat KTP dan beberapa administrasi lain yang tidak lebih dari satu hari.

”Ketika lebih dari 1 hari, maka akan bunyi sirinenya, untuk pelayanan. Demikian juga untuk pelayanan yang lain,” imbuhnya.

Bagi Sutiaji, Otonomi Award menjadi penilaian terhadap ASN. Ini juga bisa berpengaruh terhadap penilaian untuk kenaikan jabatan ”Ketika lurah bagus jabatannya akan dinilai lebih, supaya bisa dinaikkan reward-nya,” pungkasnya.

Sementara itu, The Dance Company yang dikomandani Ariyo Wahab, tadi malam menghentak dengan lagu perdananya yang berjudul Selamat Malam Dunia. Dengan gaya khasnya, mereka membawakan sejumlah lawakan di panggung. Sang basis Pongki Barata misalnya, di sela-sela manggung, tiba-tiba membocorkan harga sekali manggung.

”Harga kami sekali manggung Rp150 juta. Tapi, kemarin ditawar Rp 15 juta. Kami ambil,” ucap Pongki disambut tawa para undangan.

Menurut dia, ada rahasia di balik harga Rp 15 juta tersebut. ”Biar yang ngisi acara di Malang bukan Tulus (penyanyi, Red) terus,” sentilnya sambil bercanda.

Di penghujung acara, Aryo Wahab meminta Sutiaji dan sejumlah undangan lain untuk naik panggung. Di atas panggung, mereka membawakan lagu Papa Rock and Roll. Suasana seketika bertambah meriah karena semua undangan ikut bernyanyi bersama.

”Terima kasih Malang, terima kasih semua yang ada di sini. Sampai berjumpa lain waktu, thank you,” ungkap Aryo Wahab.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono