Kelainan Jantung Sempat Bikin sang Ibu Waswas

Bagi Rahmadiar Kautsar, menari adalah hal yang paling dia sukai. Apalagi, berkat kemampuannya menari, Diar pernah meraih juara di ajang Indonesia Deaf Talent (IDT). Di banyak panggung, Rahmadiar rela tampil tanpa dibayar.

Sosok Diar sudah terlihat tepat di depan gerbang Rumah Makan Ayam Goreng Tenes. Saat melihat wartawan koran ini, dia tersenyum. Dia mengangkat dan melambai tangannya. Tanda dari bahasa tubuhnya yang meminta wartawan koran ini segera masuk ke dalam rumah makan milik ayahnya.

”Dari sebelum pukul 08.00 WIB, Diar sudah menunggu di depan gerbang,” ujar Siti Nuryati, ibunda Diar, yang membantu selama proses wawancara berlangsung.

Diar yang saat ini berusia 23 tahun, kata Yeti–sapaan akrab Siti Nuryati–termasuk aktif. Padahal, kondisi fisiknya tak seperti kebanyakan orang.

Tak hanya Tuli, Diar juga punya kelainan jantung. Di usia 10 tahun, dia sudah harus menjalani operasi jantung.



Tak lama, dia didiagnosis skoliosis (kondisi melengkungnya tulang belakang ke samping). ”Meski begitu, Diar nggak menolak kalau diundang menari ke mana saja,” kata Yeti.

Apalagi kalau itu event sosial. Termasuk ketika ada permintaan dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) dan organisasi penyandang Tuli lainnya.

Jiwa sosial Diar kepada sesama penyandang Tuli sangat tinggi. Dia menolak dibayar. Padahal, kostum tarinya sering kali menyewa dengan biaya yang tidak murah.

Mau jauh atau dekat, Diar sanggup datang. ”Hanya, karena ada sakit jantung ini jarang mengambil undangan yang jauh sekali,” kata Yeti.

Banyak orang yang mengetahui bakat Diar berkat ajang Indonesia Deaf Talent (IDT). Ini adalah ajang pencarian bakat khusus penyandang tunarungu. ”Tiga kali Diar mengikuti IDT,” cerita Diar dengan bahasa isyarat.

Kiprahnya di IDT bermula pada 2013. Tapi, di kesempatan pertamanya, dia gagal meraih juara. Pun demikian tahun selanjutnya. Barulah, di 2015, Diar bisa meraih juara III.

Itu menjadi keberhasilan yang tak bisa dilupakan Yeti dan suaminya Dodid EJ. ”Kami tidak bisa mengantar dan mendampingi Diar di Jakarta,” ujar Dodid yang juga pemilik Ayam Goreng Tenes tersebut.

Sebab, ada kepentingan lain yang harus segera diselesaikan. Tapi, Diar ngotot ingin tampil.

Terpaksa, Diar ditemani salah seorang pengasuhnya. ”Kekhawatiran itu ada. Apalagi kondisi jantungnya yang membuat kami lebih khawatir,” jelas dia.

Meski jauh, Dodid dan Yeti tetap berdoa agar Diar bisa meraih juara. Doa Dodid dan Yeti dikabulkan. Diar berhasil meraih juara tiga.

Terakhir, Diar tampil mengisi acara Linda Show 2 di Malang Town Square (Matos) pada 17 Desember 2018. Penampilannya kala itu mengundang decak kagum pengunjung. Termasuk istri Wali Kota Malang Widayati.

Widayati kaget. Lantaran tidak banyak penyandang Tuli, terutama pria, yang bisa menari luwes. Widayati pun sampai memeluk Diar saking kagumnya.

Dodid menyatakan, Diar selalu menikmati setiap event yang diikuti. Terutama event-event yang digelar komunitas penyandang Tuli. ”Diar menikmati acaranya. Sekalian membangun relasi dengan kawan penyandang Tuli,” jelas  Dodid.

Pintarnya Diar membangun relasi, sering kali membuat orang tuanya kaget. Misalnya, kalau liburan ke Padang maupun Bali, di lobi hotel sudah ada teman-teman penyandang Tuli yang juga penduduk asli sana datang menyapa Diar.

Malah, Diar berkawan akrab dengan Miss Deaf Internasional asal Indonesia, Dian Inggrawati. ”Dengan putra dari Dewi Yul, Surya Sahetapy pun sudah friend-nya Diar,” kata Dodid. Diar juga berteman akrab dengan Ayushita, salah seorang artis kenamaan ibu kota.

Diar yang mudah akrab, berjiwa sosial ini, juga membantu kawan sesama penyandang Tuli untuk bekerja. Saat ini, di Ayam Goreng Tenes, ada sebelas karyawan yang tunarungu.

Diar tahu betul betapa sulitnya kaum difabel mendapatkan pekerjaan. Makanya, ketika Ayam Goreng Tenes butuh pegawai atau ada tempat kerja lainnya, Diar tak segan merekomendasikan temannya sesama penyandang Tuli.

Lalu, bagaimana dengan Diar? Saat ini, Diar memang tidak bekerja. Dia masih berusaha untuk masuk kampus idamannya, Universitas Negeri Malang (UM). ”Mau masuk S-1, lalu lulus dan menjadi guru di sekolah,” kata alumnus SMPLB Tunas Bangsa ini.

Pewarta             : *
Copy Editor        : Dwi Lindawati
Penyunting         : Indra Mufarendra
Fotografer          : Rubianto