Kejati Jatim Tahan Kabid Cipta Karya Kota Batu

KOTA BATU – Sempat terkatung-katung hampir setahun, berkas kasus dugaan pungli dengan tersangka Nugroho Widiyanto akhirnya P21 (lengkap) juga. Senin lalu (9/10), Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPKPP) Kota Batu itu ditahan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Penahanan terhadap Nugroho seakan menjadi antiklimaks perkara yang bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) Saber Pungli Kemenko Polhukam, Agustus tahun lalu itu.

Penahanan terhadap pejabat yang biasa disapa Yeyen ini diungkapkan Kasi Penerangan dan Hukum (Penkum) Kejati Jatim Richard Marpaung saat dikonfirmasi kemarin (10/7).

”Ya, berkasnya sudah diserahkan polda ke Kejati Jatim kemarin (9/9),” terangnya. Dia menambahkan, tersangka langsung menghuni sel di rutan Kejati Jatim.

Menurut Richard, pihaknya tidak akan berlama-lama dalam menangani kasus tersebut. ”Dalam waktu dekat, akan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya,” ungkapnya.

Hanya saja, saat ditanya tentang perkiraan waktunya, dia menyatakan hal itu tergantung kelengkapan berkasnya. ”Secepatnya, kita susun surat dakwaannya dulu,” tegasnya.



Seperti yang diketahui, Polda Jatim menetapkan Yeyen sebagai tersangka dalam kasus dugaan pungli pada bulan September tahun lalu. Penetapan tersangka bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Tim Saber Pungli Kemenko Polhukam 24 Agustus  2017.

Kala itu, Yeyen diamankan bersama dua aparatur sipil negara (ASN) di sebuah rumah di Perumahan Dirgantara, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Tim Saber Pungli Kemenko Polhukam juga menemukan barang bukti uang sebesar Rp 25 juta yang diduga berasal dari kontraktor yang mengerjakan proyek di Kota Batu.

Oleh Tim Saber Pungli Kemenko Polhukam, perkara tersebut lantas dilimpahkan ke Polres Batu untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. Namun, tak berselang lama, perkara tersebut diambil alih Ditreskrimsus Polda Jatim.

Setelah memeriksa sejumlah saksi dan melakukan gelar perkara, Polda Jatim menetapkan Yeyen sebagai tersangka pada 30 September 2017. Yeyen ditetapkan tersangka karena melanggar pasal 11 dan atau pasal 12 huruf e, UU nomor 31 tahun 1999 yang diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman 4 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

Pewarta: Octo Pratama
Penyunting: Ahmad Yani
Grafis: Andhi Wira