Kejagung Minta Laporan Vonis Bebas Bandar Narkoba

JawaPos.com – Vonis bebas bandar narkoba Syamsul Rijal alias Kijang menjadi atensi khusus Kejaksaan Agung (Kejagung). Pria asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) itu dinyatakan bebas murni dari segala dakwaan hukum dalam perkara kepemilikan sabu-sabu sebanyak 2,5 kg oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Makassar.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel dan Barat (Sulselbar) Salahuddin mengatakan, Kejagung sudah meminta laporan soal vonis bebas terhadap Kijang. “Kejagung melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) sudah meminta laporan kenapa perkara bisa bebas,” kata Salahuddin, Jumat (15/2).

Sebagai tindak lanjut atas permintaan tersebut, laporan telah dikirim ke Kejagung melalui pesan elektronik (faksimile) pada Kamis (14/2) siang. Kejati Sulselbar juga akan melakukan eksaminasi terhadap jaksa yang menjadi penuntut umum dalam perkara ini. “Ada lebih dari satu jaksa yang menangani perkara ini. Jadi memang harus ada evaluasi kepasa jaksa yang menangani,” ucapnya.

Adapun sidang sebelumnya diketuai Rika Mona Pandegirot. Kemudian Cening Budiana dan Aris Gunawan selaku hakim anggota. Dalam sidang putusan pada Selasa (8/9) lalu, Kijang divonis bebas murni.



Direktur Reserse Narkoba Polda Sulsel Kombes Pol Hermawan mengaku kecewa atas putusan hakim. Sebab upaya penyidik kepolisian dalam mengungkap peredaran narkotika terkesan sia-sia. Apalagi peran Kijang yang dianggap besar. Yakni, bandar dalam sebuah jaringan internasional.

Menurut Hermawan, putusan bebas terbilang ganjil. Sebab rekan-rekan Kijang yang lebih dulu ditangkap telah menjalani hukuman penjara. Kijang yang memiliki peran lebih besar seharusnya bisa dijerat dengan hukuman maksimal penjara seumur hidup.

“Yang jelas kalau putusan pengadilan haknya hakim, hak prerogatif. Tidak tahu penilaian dari mana. Yang jelas, kami sudah maksimal. Artinya kami tidak main-main dalam kasus ini,” ucap Hermawan.

Editor           : Sofyan Cahyono

Reporter      : Sahrul Ramadan