Kehidupan Seks Mahasiswa Malang Kebablasan?

MALANG KOTA – Kehidupan seks sebagian mahasiswa di Malang terindikasi sudah kebablasan. Selain tak menganggap tabu seks pranikah, aksi yang mereka lakukan sudah layaknya kehidupan seks bebas di luar negeri.

Fenomena kehidupan seks mahasiswa di Malang tersebut bakal dibeber promovendus Dewi Nurwantari MPd dalam ujian doktor di kampusnya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (28/3) hari ini. Selain Dewi, promovendus Basuki Agus Priyana Putra MPd juga bakal mengikuti ujian doktor dengan disertasi tentang fenomena media pembelajaran politik di kalangan pelajar.

Lewat penelitiannya, Dewi berusaha menguak Makna Hubungan Seksual Pra-Nikah (Studi Fenomenologi Seksualitas Mahasiswi di Kota Malang). Dia komparasikan hasil risetnya itu dengan fenomena seksualitas mahasiswi di Murcia, Spanyol.

Dia menyimpulkan, sebagian mahasiswa di Kota Malang sudah melakukan seks pranikah secara tertutup. Mereka hanya mau berbagi dengan lingkungan yang dianggap mempunyai pandangan yang sama terkait seks. Bahkan, mahasiswa dewasa ini tidak melulu bicara soal seks normal pada umumnya. ”Ada yang menganggap seks sebagai lifestyle. Ada yang melakukan hard sex atau bandage sex,” kata alumnus S-2 MKPP UMM itu.

Sementara di Spanyol, dia mendapati mahasiswi muslim memang menjadi minoritas. Hanya saja mereka tetap mempertahankan identitas keislaman dan normanya, hanya mengikuti budaya Eropa sewajarnya.



Namun berbeda dengan mahasiswi muslim yang imigran. Dalam risetnya, Dewi menyebut mahasiswi yang datang untuk kuliah, kemudian menemukan jalan lain terkait fenomena seksual, atau karena kebutuhan materi sebagai seorang imigran. ”Kalau misalnya perempuan berhijab, ada yang memang karena norma, ada yang karena simbol, culture, dan fashion,” tandasnya.

Sedangkan promovendus Basuki Agus Priyana Putra MPd melakukan riset tentang Konstruksi Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) terhadap Pendidikan Politik (Studi Fenomenologi pada Siswa SMA Negeri 3 Malang).

Para mantan ketua OSIS dan perwakilan kelas (PK) 2013–2017 di sekolah itu menjadi subjek risetnya. ”Yang ditangkap siswa tentang pendidikan politik itu soal konsep, implementasi, objek, dan manfaat,” terangnya.

Riset yang dilakukan dengan teori konstruktivisme dan teori konstruksi sosial itu kemudian menghasilkan teori konstruksi ganda pendidikan politik. Pendidikan politik dapat dilakukan dengan operasi kecerdasan dan interaksi sosial.

Teori konstruksi ganda pendidikan politik yang dicetuskan Basuki ini diyakini ideal sebagai teori dalam pendidikan politik siswa. ”Siswa yang mengonstruksi bagaimana idealnya pendidikan politik, saya temukan dengan teori konstruksi ganda pendidikan politik,” kata guru SMAN 3 Malang itu.

Prof Dr Ishomuddin MSi yang merupakan promotor kedua promovendus tersebut menyatakan, Dewi melakukan riset yang menghasilkan informasi penting bagi pendidikan tinggi. Dengan hasil riset Dewi, Ishom menyebut pendidikan tinggi tidak boleh melulu menjalankan pembinaan keilmuan, tetapi juga pembinaan perilaku mahasiswa. ”Pendidikan tinggi tidak lagi hanya membina keilmuan, tapi juga perilaku. Ini menjadi informasi penting bagi Kota Malang, dan pemerintah daerah agar bisa membuat kebijakan-kebijakan strategis,” kata pemecah rekor Muri untuk HKI terbanyak itu.

Sementara perspektif siswa dalam perpolitikan menurut dia dapat dilihat pada hasil disertasi Basuki. Hasil disertasi itu disebutnya sebagai respons pemilih milenial terhadap politik.

Siswa yang aktif dalam organisasi dan memiliki kecerdasan di kelas, secara tidak langsung menjadi medan latihan berpolitik di sekolah. ”Riset ini sangat positif, kontemporer, dan relevan saat ini. Kajian soal politik banyak, tapi Pak Basuki beda, subjeknya siswa,” pungkasnya.

Pewarta               : Fajrus Shidiq
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Ahmad Yani