Kecamatan Pakis Andalkan Lima Inovasi

KEPANJEN – Kompetisi sinergitas kinerja kecamatan Kabupaten Malang 2019 kembali digelar. Sebanyak lima kecamatan dipastikan lolos untuk mengikuti seleksi tahap ketiga yang dilaksanakan mulai kemarin (12/11), hari ini (13/11), dan besok (14/11).

Kelima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Pakis, Ngantang, Kromengan, Tumpang, dan Tajinan. Dalam kunjungan panitia ke Kecamatan Pakis kemarin (12/11), tim yang terdiri dari Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Pantjaningsih Sri Redjeki, Perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Agus Widodo, dan sejumlah perwakilan tokoh masyarakat mengecek secara langsung program-program inovasi yang sebelumnya telah dipaparkan oleh Pemerintah Kecamatan Pakis.

Secara keseluruhan, total ada lima inovasi yang dipaparkan oleh Pemerintah Kecamatan Pakis kepada dewan juri.

Yaitu, program layanan dan fasilitas disabilitas, pojok bermain, ruang laktasi, galeri UMKM, serta klinik DD ADD, dan klinik penanggulangan kemiskinan yang terdapat di Kantor Kecamatan Pakis.

Sementara di sektor lingkungan hidup, para dewan juri juga diajak untuk berkeliling ke SDN Sekarpuro I serta Kampung Manggar di Desa Sekarpuro yang telah menerapkan program biopori dan bank sampah yang terletak di Desa Banjarejo serta supermarket Pringgo yang khusus menjajakan produk UMKM yang dimiliki oleh masyarakat Desa Sukoanyar.

”Jadi, bagaimana program yang sudah kami jalankan ini menjadi penggerak sekaligus pemberdaya masyarakat yang mampu menyinergikan tugas-tugas wakil pemerintah di wilayah kecamatan.

Bukan hanya sebatas pelayanan harian saya, tapi juga pemberdayaan dari sektor UMKM dan lingkungan,” kata Camat Pakis Firmando H. Matondang kemarin.

Menurut dia, inovasi yang diciptakan juga harus memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

”Warga di sekitar Embung Demun misalnya, berkat dikelola lingkungannya dan menjadi salah satu objek wisata, sekarang sudah 5 kepala rumah tangga yang lepas dari status miskin,” kata Mando.

Dengan catatan  tersebut, dia melanjutkan, pihaknya dalam waktu tiga bulan bisa membebaskan warganya dari status miskin sebanyak 3,9 persen.

”Satu persen di antaranya dicoret (dari warga miskin) karena sudah tidak memenuhi syarat sebagai sasaran program keluarga harapan (PKH), dan sisanya sebesar 2,9 persen lepas dari status miskin karena secara ekonomi mereka sudah mulai mapan,” jelas Mando.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Imam Nasrodin