Kecamatan Batu Jadi Dapil ”Neraka”

KOTA BATU – Persaingan para politisi di ajang Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2019 di Kota Batu diprediksi bakal sengit. Terutama bagi mereka yang bertarung di daerah pemilihan (dapil) 1 dan 2. Selain menjadi rebutan caleg petahana, dipecahnya Kecamatan Batu menjadi dua dapil membuat peta dukungan dan perebutan suara semakin ketat.

KPU Kota Batu telah memutuskan Kecamatan Batu dibagi menjadi dua dapil. Untuk dapil 1 meliputi Kelurahan Ngaglik, Kelurahan Songgokerto, Desa Pesanggrahan, Desa Sidomulyo, dan Desa Sumberejo. Jumlah pemilih di dapil ini mencapai 35.317 orang. Sementara untuk dapil 2 mencakup Kelurahan Temas, Sisir, dan Desa Oro-Oro Ombo dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 34.070 orang.

Pemecahan dapil tersebut memang membuka kesempatan yang lebih besar bagi para caleg baru untuk mencuri peluang mendapatkan kursi di dapil ”neraka” ini. Karena selain wilayah yang harus ”diopeni’ lebih kecil, jumlah kursi yang diperebutkan juga lebih banyak. Jika di pemilu sebelumnya hanya ada 12 kursi, untuk Pileg 2019 ada 14 kursi yang dibagi rata masing-masing 7 kursi di tiap dapil.

Sementara bagi sebagian caleg petahana, pemecahan dua dapil menyebabkan sebagian suara pemilih potensialnya menguap karena ada sebagian tak masuk dapilnya. Praktis, para caleg harus kembali menyisir dukungan tambahan di wilayah yang lebih sempit jika ingin terpilih kembali.

Dari total 314 kandidat yang masuk daftar calon tetap (DCT), mereka yang berlaga di dapil 1 sebanyak 77 politisi. Enam di antaranya adalah caleg petahana. Sementara di dapil 2 menjadi medan pertempuran bagi 74 caleg. Empat di antaranya adalah caleg petahana.

Hari Danah Wahyono, caleg petahana dari Partai Gerindra yang turun di dapil 2, mengakui sengitnya persaingan yang akan terjadi. Wakil ketua DPRD Kota Batu ini tak hanya dipaksa bersaing dengan sesama petahana, namun  juga dibayangi sejumlah caleg baru yang bisa menjadi kuda hitam.

”Dari hitungan saya, ada sembilan orang yang punya kans menang, itu sudah termasuk incumbent (petahana). Jadi memang persaingannya semakin ketat nanti,” ungkapnya. Hanya saja, Hari enggan membeber nama-nama yang diperhitungkan bakal menjadi wakil rakyat tersebut.

Hari menyatakan, saat Pileg 2014 lalu, dia bisa mengumpulkan 2.270 suara dari 4 kelurahan dan 4 desa. Sementara untuk coblosan tahun depan, dia harus fokus menjala dukungan di Desa Oro-Oro Ombo, Kelurahan Sisir, dan Temas saja. ”Padahal saya dulu kan juga punya pemilih di luar itu (Desa Oro-Oro Ombo, Kelurahan Sisir, dan Temas),” kata dia.

Nurrohman, calon petahana dari PKB yang turun di dapil 1, juga yakin kompetisi untuk meraih dukungan pemilih bakal lebih dinamis. Selain persaingan antarpetahana, hadirnya sejumlah caleg muda juga bisa menggulingkan kesempatan caleg incumbent kembali menjadi wakil rakyat. ”Ini akan menjadi tantangan bagi petahana, sebab banyak generasi milenial yang juga nyalon,” terang politisi yang mendulang 2.026 suara di Pileg 2014 lalu.

Sementara itu, sejumlah caleg pendatang baru juga menjadikan pemecahan dapil sebagai peluang untuk tampil sebagai pemenang. Seperti Zainul Arifin, mantan ketua KONI Kota Batu, dan juga mantan direktur PDAM Kota Batu yang memilih masuk dapil 2. Menurut dia, peluang para new comers bisa lebih besar dibandingkan petahana. ”Meski calon baru, namun bukan berarti mereka tidak tahu apa-apa. Sebab, mereka (yang baru) adalah orang-orang yang sebelumnya sudah banyak bergelut di organisasi dan masyarakat,” kata dia. (adk/c1/nay)