Kayu Tangah dalam Jepretan Kamera

MALANG KOTA – Ada suasana berbeda di Pasar Talun, kemarin (6/5). Pagar di lorong gang pasar yang biasanya kosong, kini penuh tempelan foto. Foto-foto yang dipajang itu, di antaranya menggambarkan suasana gang perkampungan kumuh, rumah penduduk, hingga para bocah duduk bersantai di depan rumah masing-masing.

MALANG KOTA – Ada suasana berbeda di Pasar Talun, kemarin (6/5). Pagar di lorong gang pasar yang biasanya kosong, kini penuh tempelan foto. Foto-foto yang dipajang itu, di antaranya menggambarkan suasana gang perkampungan kumuh, rumah penduduk, hingga para bocah duduk bersantai di depan rumah masing-masing.

Foto-foto tersebut bukan karya fotografer profesional. Namun, hasil jepretan bocah-bocah sekolah dasar (SD) yang tinggal di perkampungan sekitar Pasar Talun. Total ada 81 foto yang dipamerkan komunitas A Day to Walk kerja bareng dengan fotografi Walking in Ngalam.

Sindy Ridho Asta Sumartono, koordinator A Day to Walk, menyatakan, pameran bertajuk ”Waktu Ruang Kayu Tangan” itu diselenggarakan setelah komunitasnya menelusuri sejarah Kota Malang. Dari pengalamannya menelusuri sejarah, muncul keresahan karena Malang tidak mempunyai kota lama, layaknya Semarang. ”Akhirnya, kami memilih Kayu Tangan untuk heritage tourism (wisata sejarah). Kami memilih Pasar Talun,” ujar Ridho.

Pewarta: Fiska Tanjung
Penyunting: Mahmudan
Foto: Bayu Eka