Karyanya Pernah Ditukar 20 Kg Beras, Kini Tersebar di Tiga Benua

Memilih hidup sebagai seniman menjadikan Slamet Hendro Kusumo (Henkus) harus berjibaku dengan egonya sendiri. Meski awalnya sepi apresiasi, perupa asal Jalan Imam Bonjol, Dusun Beru, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, ini konsisten dengan gaya Neo Mooi Indie. Seperti apa proses kreatifnya?

MIFTAHUL HUDA

Suasana pedesaan begitu terasa saat wartawan koran ini berkunjung ke kediamannya kemarin siang (20/10). Sekilas, rumah itu lebih mirip bangunan sarang walet, hanya berbentuk kotak dan temboknya masih berupa batu-bata yang dikombinasi dengan kayu.

Slamet Hendro Kusumo memang beda dari seniman atau perupa kebanyakan. Lukisan karyanya memiliki karakter yang kuat. Dia memasukkan gaya Neo Mooi Indie alias kontemporer landscape atau aliran seni lukis yang menolak aliran Mooi Indie, aliran lukisan yang menggambarkan keindahan alam yang sempat berkembang di abad 19 pada masa Hindia-Belanda.

Sebagian besar karyanya lahir dari pergulatan filsafat dan pendekatan sosiologi. ”Mari jika ingin masuk ke dalam rumah. Bisa lihat-lihat apa saja di dalam,” sambut pria ramah itu memulai perbincangan.

Meski dari luar nampak seperti sarang walet, namun begitu memasuki rumah, hampir tidak ditemui dekorasi, selain beragam jenis lukisan dengan gaya kontemporer. Siapa pun pengunjung yang masuk, imajinasinya bakal terbang hingga ke galeri lukis Pinacoteca Brera di Kota Milan, Italia, yang konon di sana dipajang hasil karya para pelukis Italia pada abad 14 sampai 20.

Beragam jenis lukisan memenuhi dinding-dinding rumah pria berusia 59 tahun itu. Ada lukisan perempuan dan pria keturunan dengan paras parlente, ada tema kebesaran raja-raja Eropa, ada pula jenis lukisan landscape. Selain sebagai mesin inspirasi, rumah milik Cak Met–sapaan akrab Slamet Hankus, itu juga kerap dijadikan sebagai ruang publik.

”Ya beginilah isi rumah saya, penuh dengan lukisan di mana-mana. Tapi saya tidak ingin dikenal sebagai pelukis saja. Karena tempat ini selain saya huni bersama keluarga, di sini juga saya fungsikan sebagai Omah Budaya Slamet. Semua kalangan bisa masuk untuk berdiskusi,” kata dia.

Sambil menunjukkan karya lukisannya, Cak Met pun mulai bercerita tentang masa lalunya. Siapa sangka di balik kesuksesannya sebagai pelukis yang karyanya telah diakui di tiga benua, mulai Amerika, Eropa hingga Asia itu, sudah kenyang dengan asam garam kehidupan.

Cak Met mengawali karir sebagai komikus. Debut itu dimulai sejak di bangku SMA, yakni sebagai ilustrator mading di tahun 1980. Asanya semakin besar, sebesar pemikirannya waktu itu. Hasil goresannya pun dia kirim ke beberapa penerbit. Tercatat sudah ada 10 penerbit, baik itu majalah, tabloid hingga surat kabar telah dia coba.

”Tapi semuanya menolak hasil karya saya. Itu awal yang cukup pahit saya rasakan. Sampai puncaknya hampir semua karya saya bakar waktu itu. Beruntung, saudara saya melarang,” kenangnya.

Tak mau berhenti berjuang, dia pun mengumpulkan uang hasil kerja kerasnya di usaha tahu milik keluarganya untuk membeli buku panduan membuat komik. Dasarnya mutiara, belum digosok memang selalu dianggap remeh oleh siapa pun. Berkali-kali dirinya diperingatkan oleh saudaranya, supaya mengurus dan melanjutkan usaha tahu milik keluarganya tersebut.

”Tapi saya menolak, saya tidak bisa bekerja mengikuti arahan orang lain,” papar pria yang juga sebagai koordinator advokasi pokja peningkatan status Kota Batu tahun 1999–2003 silam.

Telanjur menolak ajakan saudaranya, Cak Met lantas bertemu dengan komikus senior di zamannya, almarhum Teguh Santoso. Maksud hati ingin berguru kepadanya, harapannya justru bertepuk sebelah tangan.

Padahal usahanya terbilang ekstrem, dia rela mendatangi rumah Teguh Santoso untuk ngangsu kaweruh kepada sang maestro. Memang, saat itu almarhum Teguh Santoso termasuk komikus senior. Sampai-sampai jam kerja yang padat membuatnya kerepotan menemui tamu.

”Saya sampai tidur di kuburan dekat rumahnya, hanya untuk bertemu dengan Mas Teguh. Tidak pernah ditemui. Akhirnya saya bersumpah untuk tidak lagi punya keinginan berguru dengan dirinya,” kata perupa yang pernah mendapat penghargaan kreator bidang seni rupa tingkat Jatim oleh gubernur tahun 2016 silam.

Gayung baru bersambut sekitar tahun 1986, saat salah satu tabloid Cip Cop memberi kesempatan untuk menerbitkan karyanya. Asa pun semakin terlihat, dia justru mengungguli Teguh Santoso.

Gemblengan keras dari penulis novel anak-anak terkenal, Dwianto Setyawan, pun membuahkan hasil. ”Saat itu memang ada seleksi untuk terbit. Itu ada karya saya, Mas Teguh, dan Jan Mintaraga. Saya bisa mengungguli mereka bedua. Komik saya yang lolos,” beber dia.

Hingga akhirnya, gejolak hebat kembali dialami olehnya. Saat itu tahun 1990, komik Jepang mulai digandrungi pembaca Indonesia. Prinsipnya, seniman juga harus bisa membaca kondisi. Tahun itu, komik-komik Indonesia sudah semakin tidak memiliki pasar. Di situlah awal mula dirinya memantapkan diri terjun ke dunia lukis. Butuh waktu enam bulan untuk menyesuaikan bidang kesenian yang baru.

”Awalnya saya gambar wajah seseorang itu seperti orang habis dipukuli, bengep (memar, Red) saya pun butuh penyesuaian dari menggambar komik beralih ke kanvas dan cat minyak,” ujar pria yang saat ini menempuh studi S-3 Ilmu Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Dua tahun terjun di dunia lukis, tidak ada satu pun karyanya yang laku terjual. Lukisan pertamanya saat itu berupa gambar mayat. Ada cerita unik di balik kenekatan dirinya melukis mayat. Saat itu, satu minngu setelah dirinya bertunangan dengan istrinya, Sri Sugiarti, ayah tercinta rupanya mengembuskan napas terakhir.

Saat merangkul jenazah ayahnya yang dimasukkan ke liang lahat, benak Slamet terngiang, bukan tentang surga atau neraka. Tapi bagaimana caranya dia harus menutup biaya tahlilan hingga tujuh hari meninggalnya sang ayah saat itu.

”Tuhan mendengar apa yang saya pikirkan. Bantuan dari teman-teman dan kerabat ternyata cukup untuk melangsungkan tahlilan. Karena waktu itu ekonomi kami sangat terbatas,” kata ayah tiga anak itu. Sejak itu, keinginan untuk melukis mayat pun muncul.

Hampir semua tema lukisannya selama dua tahun tersebut hanya berupa mayat. Karya terbaik memang selalu tak pernah jatuh di tangan yang salah. Lukisan mayat yang dipikirnya tak mungkin laku itu diberi mahar oleh orang Belanda. Pria bernama L Bosse itu tertarik memboyong lukisan pertama milik Cak Met melalui kawannya.

”Benar-benar putus asa, dua tahun terjun di dunia lukis tidak ada penghasilan. Tidak ada yang laku, termasuk lukisan mayat yang terinspirasi dari kematian Ayah saya. Saat itu memang pikir saya, mana ada orang ingin memajang lukisan mayat di rumahnya,” sambung perupa yang April tahun depan bakal menggelar pameran tunggal skala internasional di galeri Deddy PAW Magelang itu.

Sebelumnya, istri dan mertuanya juga sempat menolak saat dirinya hendak melukis tema mayat. Katanya itu hal tabu yang dilakukan manusia. ”Tidak elok (tidak baik, Red), mendekati ketidakwajaran,” imbuhnya.

Pengalaman mengenaskan lain juga dialami olehnya, saking putus asanya dengan respons seni rupa waktu itu, Cak Met pun rela berkeliling dari kampung ke kampung di Kelurahan Sisir untuk menawarkan lukisan karyanya.

Bukan hanya itu saja, waktu itu dirinya juga rela dibayar beras 20 kg sebagai pengganti uang. ”Itu pesanan dari salah satu orang. Karena tidak ada uang, akhirnya dibayar dengan beras 20 kg,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Prinsip hidupnya bahwa seniman harus bertanggung jawab dengan karyanya, seniman memiliki tanggung jawab sosial, menjadi pemicu semangatnya kala itu. Hingga saat ini karya-karyanya sudah terpajang di berbagai ngara, seperti Amerika, Australia, Prancis, Spanyol, Inggris, Malaysia, Singapura, dan negara lainnya.

”Rata-rata mereka membeli dari hasil pameran dan mulut ke mulut. Karena ada beberapa teman di beberapa negara yang ikut membantu,” tutup pria yang pernah menjadi ilustrator lepas di Majalah Liberty ini.

Dia lantas menjelaskan, Mooi Indie adalah salah satu aliran seni lukis landscape yang populer di abad 19. Temanya murni tentang pemandangan alam pegunungan pada zaman Hindia Belanda. Sementara Neo Mooi Indie meski tetap bertema landscape, namun dia memasukkan unsur pendekatan sosiologi, politik hingga filsafat.

Slamet lantas mencontohkan lukisannya tentang sekumpulan kambing yang sebagian bulunya berwarna-warni. ”Lukisan kambing itu akan tetap beraliran Mooi Indie kalau bulu kambingnya tetap berwarna secara lazim,” bebernya. Dengan memberi warna berbeda pada bulu-bulu kambing, Slamet menganggap kondisi masyarakat sudah dipolitisasi menjadi berbagai golongan.

Pewarta : *
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani