Kartu Tani Terkendala Sosialisasi

Menjadi salah satu wilayah unggulan dalam menghasilkan komoditas padi, petani di Kabupaten Malang sebenarnya sudah jadi sasaran utama pemerintah dalam menyalurkan bantuan. Pada November 2017 lalu, ada 2.298 petani yang diberi kartu tani. Kartu yang dibuat Kementerian Pertanian (Kementan) RI bekerja sama dengan perbankan untuk mendistribusikan pupuk bersubsidi. Sayangnya, manfaatan kartu tersebut masih belum dirasakan oleh petani yang mendapatkannya.

KEPANJEN Menjadi salah satu wilayah unggulan dalam menghasilkan komoditas padi, petani di Kabupaten Malang sebenarnya sudah jadi sasaran utama pemerintah dalam menyalurkan bantuan. Pada November 2017 lalu, ada 2.298 petani yang diberi kartu tani. Kartu yang dibuat Kementerian Pertanian (Kementan) RI bekerja sama dengan perbankan untuk mendistribusikan pupuk bersubsidi. Sayangnya, manfaatan kartu tersebut masih belum dirasakan oleh petani yang mendapatkannya.

”Fungsi utama kartu tani ini memang untuk menyalurkan bantuan pupuk bersubsidi. Akan tetapi, belum banyak petani yang memanfaatkannya,” terang Bupati Malang Rendra Kresna.

Dia beralasan, sosialisasi untuk kartu baru tersebut belum disampaikan secara menyeluruh. Sehingga, banyak petani yang belum mengerti teknis penggunaannya. Padahal, dari pendalaman koran ini, pengunaan kartu tersebut bisa menekan biaya pupuk. Untuk pupuk urea misalnya, dari harga Rp 4.800 per kilogram bisa ditekan menjadi Rp 1.800 per kilogram. Ada subsidi senilai Rp 3.000 yang ditanggung pemerintah pusat. ”Dalam hal ini, perbankan harusnya proaktif menyosialisasikan fungsi kartu tani, sehingga para petani tertarik dan mau memanfaatkannya,” sambung Rendra.

Selain itu, Rendra juga berharap akses peralatan bisa dipenuhi di semua kecamatan. ”Kalau perlu, di tempat pengecer juga ada alat geseknya. Ini menjadi tugas perbankan lah saya kira. Pemkab sangat berharap petani bisa mendapat kemudahan seperti demikian,” imbuhnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan di lapangan, penyebaran kartu tani tersebut diketahui belum merata. Ngateman, salah satu petani dari Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, jadi salah satu yang belum mendapatkannya. ”Dulu sempat ada sosialisasi, tapi sampai sekarang masih belum dikasih (kartu tani),” ujarnya.



Pewarta: Farikh Fajarwati
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Falahi Mubarok