Karena Mendengarkan Saran Sang Istri, Pria ini Jadi Juragan Motor Trail

Dibalik kesuksesan suami, ada istri hebat. Inilah yang dialami Deni Puguh Dariyanto saat memutuskan membuka toko motor trail pada 2006 lalu. Saat ini, usahanya sudah memiliki tujuh cabang di berbagai daerah.

TOLAK PUTUS ASA: Deni Puguh Dariyanto menunjukkan berbagai piala penghargaan di tokonya kemarin (3/8).

Dibalik kesuksesan suami, ada istri hebat. Inilah yang dialami Deni Puguh Dariyanto saat memutuskan membuka toko motor trail pada 2006 lalu. Saat ini, usahanya sudah memiliki tujuh cabang di berbagai daerah.

Pria yang mengenakan kaus motif huruf abjad itu tampak sibuk menjelaskan sesuatu kepada dua pembeli di toko DP Planet Motor, Ruko Pattimura Town Square, Jalan Pattimura, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, kemarin (3/8). Sesekali dia mengambil beberapa aksesori motor trail sembari menjelaskan produk tersebut kepada pembeli. ”Di sini ada produk buatan sendiri dan impor. Bisa dipilih sesuai selera,” jelas pria itu kepada dua pembelinya.

Beberapa menit kemudian, handphone (HP) di tangannya tampak berdering. Sambil meminta izin kepada dua orang tadi, pria itu kemudian menerima panggilan. Ternyata, panggilan telepon itu dari pembeli yang ingin memesan barang. ”Iya, ada barangnya.

Silakan ke sini kalau mau lihat-lihat dulu,” kata pria itu sembari menutup percakapan.
Pria itu adalah Deni Puguh Dariyanto, pemilik DP Planet Motor sekaligus pemilik tim balap trail yang sudah mengumpulkan 500 penghargaan di berbagai kejuaraan nasional. Pria 32 tahun ini berkisah kalau keputusannya menekuni dunia usaha atas saran orang tua.

Tepat pada tahun 2002 silam, atau 15 tahun yang lalu, Deni diberi modal ayahnya, Sudarmaji, senilai Rp 15 juta. Uang ini untuk membuka toko jual beli oli dan ban sepeda. Kala itu, tokonya berada di Jalan Abdul Manan, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

”Tokonya sepi (waktu itu). Jarang orang yang datang,” terang pria dengan dua anak ini.
Kondisi ini membuat dia putus asa.Hal itu membuat Deni sempat berinisiatif untuk menutup tokonya. Dia ingin membuka usaha di bidang lain. Namun, hal ini urung dia lakukan, karena ayahnya terus memotivasi Deni agar tetap bertahan di usaha tersebut.

”Sama orang tua nggak boleh (pindah usaha). Terus dimotivasi agar bertahan di usaha itu,” ungkapnya.

Singkat cerita, Deni mempertahankan usaha tersebut, meski keuntungannya belum seperti saat ini. Seiring berjalannya waktu, pelan tapi pasti, usahanya mulai mengalami peningkatan.

Tepat pada 2006 silam dia menikah dengan Veni Ervina. Sang istri ini yang memberi saran agar usahanya lebih khusus. Artinya, menjual barang-barang lebih spesifik. Akhirnya, muncul ide jualan aksesori motor trail tersebut. ”Waktu itu, istri bilang, ’coba buka toko yang jual produk khusus’,” jelas pria yang mengaku hanya lulusan SMA itu, menirukan apa yang disampaikan istrinya beberapa tahun lalu.

Alhasil, usaha jual beli motor trail dan aksesorinya kini berkembang pesat. Hingga kemarin, Deni sudah memiliki tujuh cabang yang tersebar di berbagai daerah. Di antaranya, di Kalimantan Tengah, Malang Raya, Sampang, dan Jombang. Semua tokonya menjual segala jenis motor trail, serta aksesori, baik untuk motor maupun pengendaranya. ”Di Jawa Timur, toko yang khusus menjual perlengkapan trail hanya di sini,” klaimnya.

Usaha di bidang motor trail dipilih karena hobi. Ya, sebelum membuka usaha tersebut, Deni memang hobi nge-trail. Selain usaha jual beli, Deni juga sering mengikuti event lomba motor trail, baik di area Malang Raya maupun kancah Jawa Timur. Selama mengikuti event itu, Deni juga mengenalkan tokonya kepada pencinta trail. ”Hampir setiap ada event kami ikut, biar lebih dikenal,” ungkap pria kelahiran 1985 ini.

Tak hanya itu, Deni juga punya tim pembalap yang selalu siap diturunkan saat lomba. Hingga kemarin, koleksi piala timnya sudah mencapai sekitar 500. ”Ini sampai tidak cukup tempatnya (untuk meletakkan piala),” katanya sambil menunjukkan ratusan piala di dalam satu lemari kaca.

Dari ratusan piala tersebut, ada satu yang memiliki kenangan tersendiri bagi Deni. Yaitu, lomba modifikasi motor di Malaysia tahun 2014 lalu. Saat itu, dia meraih predikat The King Copper of Asia lantaran mampu menyisihkan peserta dari negara lain se-Asia.

Motor yang dilombakan pada saat itu adalah Honda Tiger tahun 1997. Motor ini dimodifikasi sedemikian rupa bersama timnya hingga menyerupai motor Harley Davidson. ”Yang memodifikasi saya sendiri, dibantu teman-teman,” ujarnya.

Ke depan, dia ingin terus mengembangkan usahanya tersebut. Sebab, dia ingin membantu menciptakan lapangan pekerjaan. ”Harapannya, usaha (ini) terus berkembang, biar bisa bantu orang lain,” harap suami Veni Ervina ini.

Pewarta: M Bahrul Marzuki
Penyunting: im N
Copy editor: Arief Rohman
Fotografer: Rubianto