Karena Gadget, Gila hingga Sayat Nadi

Hipnoterapis profesional, Dr H.M. Taufiqi SP MPd.

KABUPATEN – Dampak kecanduan bermain gadget yang membuat siswa di Bondowoso gila, juga ditemukan di Malang. Mulai merobek LKS (lembar kerja siswa), mengalami gangguan jiwa, hingga ada yang nyaris bunuh diri. Hal itu terungkap di beberapa pusat rehabilitasi.

Di Biro Konsultasi Psikologi, Psychosense Training and Consulting Malang misalnya. Ada bocah kelas VI SD yang kecanduan gadget. Ia berteriak sekencang-kencangnya saat gadget yang selalu dia buat mainan itu diambil orang tuanya. Royhan (bukan nama sebenarnya), 12, tidak mau sekolah. Bahkan, buku LKS (lembar kerja siswa) miliknya disobek.

Bocah yang tinggal di Blimbing, Kota Malang, itu mau menghentikan perilakunya setelah diberi gadget. Perubahan sikap Royhan itu dia alami sejak sering bermain gadget. Orang tuanya yang resah kemudian membawa Royhan ke Biro Konsultasi Psikologi, Psychosense Training and Consulting Malang di Jalan Arjuna, Klojen.

”Hal yang menimpa bocah ini (Royhan) karena kecanduan gadget. Sejak berusia dua tahun, dia sudah bermain gadget,” ujar Daniel Sember, konsultan psikologi yang mengobati Royhan di Biro Konsultasi Psikologi, Psychosense Training and Consulting Malang, kemarin (23/1).

Setiap hari, Royhan menghabiskan waktu hingga delapan jam untuk bermain gadget. ”Kadang bermain gadget hingga pukul 24.00, itu pun baru tidur setelah dipijat orang tuanya,” imbuh pria berusia 40 tahun ini.



Di pusat rehabilitasi pecandu gadget di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, juga ditemukan banyak pasien seperti Royhan. Bahkan, dampak kecanduannya lebih parah. Senin lalu (22/1), salah satu mahasiswa PT (perguruan tinggi) di Malang berobat ke Clinik Hypnotherapy Bravo Viec Bululawang, Kabupaten Malang. Mahasiswa tersebut mengaku begadang setiap malam. Akibatnya, keesokanharinya dia bolos kuliah. Hal ini dia rasakan sejak sering bermain gadget.

Lalu, dia bersedia diantar kedua orang tuanya untuk terapi karena ingin sembuh. Setiap terapi, dia menghabiskan waktu selama tiga jam.

Dampak kecanduan gadget juga dialami Putra (bukan nama sebenarnya), 14. Warga asal Jember itu mendatangi Clinik Hypnotherapy Bravo Viec Kabupaten Malang karena mengalami tekanan psikis. Itu dialami setelah kedua orang tuanya menyita smartphone-nya. Akibat tidak bisa mengoperasikan gadget, Putra menjadi aneh seperti mengalami gangguan jiwa (gila).

Demikian juga dialami Lucki (nama samaran), 15. Siswa asal SMP Bojonegoro itu dibawa orang tuanya untuk terapi karena sebelumnya ingin bunuh diri. Gara-gara dilarang bermain gadget, Lucki menyayat nadinya. Beruntung aksinya diketahui keluarganya sehingga mendapatkan pertolongan.

Hipnoterapis profesional Dr H.M. Taufiqi SP MPd menuturkan, pihaknya sudah menyembuhkan puluhan anak hingga remaja yang kecanduan bermain gadget. Mereka datang dari berbagai daerah.

”Dari puluhan pasien, sekitar 50 persen yang sudah pulih dari kecanduan gadget,” ujar pemilik Clinik Hypnotherapy Bravo Viec Kabupaten Malang tersebut.

Dalam menyembuhkan pasiennya, Taufiqi menggunakan metode NLP (neuro linguistic programming). ”Metode ini menggunakan pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikoterapi. Tujuannya membiasakan pasien menjalani hidup tanpa gadget,” tutur pria yang menjabat kepala SMK Unggulan An-Nur Kabupaten Malang ini.

Taufiqi memaparkan, ada tiga teknik penyembuhan. Pertama, memodifikasi sistem visual pasiennya. Dia membuat pasiennya melihat gadget seperti benda yang dibenci. Misalnya jika pasien tersebut benci dengan kecoa, setiap melihat gadget akan seperti kecoa. Kedua, teknik auditori, yakni memodifikasi pendengaran pasien. Setiap mendengar suara gadget, pasien tersebut serasa mendengar suara yang tidak dia sukai. Ketiga, teknik kinestetik. Pola penyembuhannya dilakukan dengan mengalihkan pasiennya menjalani aktivitas positif. Misalnya berolahraga hingga menjalani ritual keagamaan.

”Dengan demikian, para pasien yang kecanduan bermain gadget diharapkan bisa lepas dari ketergantungannya terhadap gadget,” kata direktur Pascasarjana Unira (Universitas Islam Raden Rahmat) Malang itu.

Selain tiga teknik tersebut, metode NLP juga memiliki dua teknik lainnya, yakni olfaktori dan gustatory. Pada teknik gustatory, seseorang yang kecanduan gadget akan dimodifikasi pada sistem pengecapannya. Jadi, orang akan merasa mual saat disodori gadget. Terakhir, yakni teknik olfaktori. Pada tahap ini, pasien akan mencium aroma busuk jika berada di dekat gadget.

”Tapi, teknik ini hanya bisa dilakukan orang yang mahir di bidangnya. Sebab, jika tidak menguasai tekniknya, seorang terapis tidak bisa memengaruhi pola pikir pasien pecandu gadget,” imbuhnya.

Lantas, bagaimana jika ada pasien yang tidak sembuh saat diterapi menggunakan lima teknik tersebut, Taufiqi menyarankan memakai metode hipnoterapi. Dia memaparkan, secara umum manusia memiliki tiga pemikiran. Yakni, alam sadar, alam tidak sadar, dan alam bawah sadar. Nasihat atau motivasi, biasanya diterima di alam sadar. Jadi, seseorang yang sudah kecanduan bermain gadget mengabaikan nasihat dan motivasi. Lebih mendalam, yakni alam tidak sadar. Pada tahap ini, ada kemungkinan bisa disembuhkan.

Misalnya melalui mengubah gaya tulisan. Sebab, gaya tulisan seseorang mencerminkan kepribadiannya.
Dengan analisis ini, pecandu bisa memulihkan kondisi dengan mengubah gaya tulisannya.

”Namun, (mengubah gaya penulisan) tidak bisa secara instan. Sebab, gaya tulisan itu merupakan sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus. Jadi, butuh waktu lama untuk mengubahnya,” sambung Taufiqi.

Sementara alam bawah sadar menjadi ruang hipnoterapi. Melalui metode ini, tanpa disadari pola pikir seseorang bisa diubah sudut pandangnya sehingga yang awalnya kecanduan gadget bisa pulih.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Malang Prof Dr Mohamad Amin MSi menyarankan solusi untuk meminimalisasi ancaman kecanduan bermain gadget dari jalur sekolah. Agar tidak semakin banyak pelajar kecanduan gadget, sekolah bisa mengeluarkan aturan untuk membatasi para siswanya menggunakan gadget.

”Orang tua juga harus mengimbangi dengan mendampingi anaknya agar tidak menggunakan gadget tak terlalu lama,” kata dosen UM (Universitas Negeri Malang) itu.

Menurut Amin, peran orang tua dan sekolah harus sinergi sehingga aktivitas anaknya selalu terpantau. Saat di rumah, Amin juga menyarankan agar para orang tua mengarahkan anaknya untuk melakukan kegiatan positif.

”Kenapa cenderung bermain gadget? Sebab, anak tidak diberi aktivitas lain yang menarik. Misal berenang maupun jalan-jalan ke tempat yang mereka sukai,” terangnya.

Menurut Amin, pemerintah juga perlu turun tangan. Dia mencontohkan, pemerintah di beberapa negara sudah mengeluarkan aturan pembatasan penggunaan gadget.

”Di luar negeri, anak baru boleh memegang gadget pada usia tertentu. Sementara di sini (Indonesia) tidak ada pembatasan usia anak bisa bermain gadget,” katanya.

Pewarta: Ashaq Lupito, Irham Thoriq & NR4.
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Dokumentasi Taufiqi