Kapolri Tito Janji Tuntaskan Kasus Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan

Kapolri Tito Janji Tuntaskan Kasus Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan

RADAR MALANG ONLINE – Kasus tumpahan minyak Pertamina hingga mencemari Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), hingga saat ini masih terus berjalan. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan, pihaknya sudah memerintahkan Polda Kaltim untuk melakukan penegakan hukum secara profesional.

“Saya akan terus kejar,” tegasnya saat mampir salat Jumat di Masjid Ali Ikhlas Markas Polda Kaltim sebelum melakukan Safari Ramadan di Samarinda, Jumat (8/6).

Menurutnya, siapa pun pelakunya wajib menjalani proses hukum. Sebab, peristiwa tersebut berdampak luas terhadap kerusakan lingkungan laut, flora-fauna di sekitar bahkan ada korban jiwa.

Paska tumpahan minyak dari pipa bocor Pertamina. (Anggi Praditha/Kaltim Post/Jawa Pos Grup)

“Harus diberi efek jera. Saya akan terus kejar. Siapa pun pelakunya wajib bertanggung jawab,” sebutnya, dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Sabtu (9/6).



“Saya tidak ingin dianggap begitu-gitu saja, setelah itu nanti terulang lagi. Harus ada efek jera, siapa pun yang bekerja, harus perhatikan dampak lingkungannya,” lanjut mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Sayangnya, untuk pemeriksaan kapal MV Ever Judger yang jangkarnya mengenai pipa Pertamina hingga putus dan mengeluarkan minyak, penyidik terkendala hukum Internasional.

“Di antaranya tentang laut dan kapal. Sepanjang kapal bukan barang bukti utama, bisa dilepas. Namun, orangnya tetap proses hukum, perusahaan korporasinya bisa pula diproses,” lanjut Tito.

Termasuk ketika ada bukti kelalaian yang dilakukan Pertamina. Menurutnya, semestinya ada mekanisme menghentikan ketika ada kebocoran.

“Tetap saya perintahkan proses hukum. Tidak boleh seenaknya, lingkungan rusak hancur karena kesalahan manajemen,” ungkapnya.

Pelaku di lapangan maupun manajemen korporasi tentu punya mekanisme menghadapi kebocoran pipa. “Sekali lagi saya awasi betul kasus ini. Bekerja itu harus hati-hati, kami tidak mau menghalangi orang bekerja,” ucapnya.

Dua Orang Ditetapkan Tersangka
Diketahui, kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan masih bergulir di Polda Kaltim. Penyidik Direktorat Kriminal Khusus Polda Kaltim sudah menetapkan dua orang tersangka. Salah satunya Ship Superintendent Pertamina berinisial IS.

Di Pertamina, IS punya kewajiban mengontrol dan memonitor jaringan pipa bawah laut. IS saat kejadian diduga lalai, tak mengetahui adanya kebocoran minyak mentah di pipa dari Lawe-Lawe, Penajam Paser Utara (PPU) ke kilang minyak di Balikpapan.

Diduga ada jeda delapan jam yang bersangkutan membiarkan minyak dari pipa yang patah karena jangkar. Kemudian, mencemari perairan di Teluk Balikpapan.

IS dengan pengalaman dan pengetahuannya harusnya bisa mendeteksi adanya kebocoran. Dalam keadaan darurat, IS dengan jabatannya punya kewenangan untuk menutup pompa yang mengalirkan minyak ke pipa bawah laut. Namun, hal tersebut tak dilakukannya. Alasan sementara, IS disebutkan tidak mengetahui adanya kebocoran pipa.

Salah satu faktor kelalaian yang disematkan kepada tersangka adalah berdasarkan pemeriksaan penyidik, minyak di tangki Pertamina dalam keadaan normal akan menyusut satu sentimeter per jam jika terjadi kebocoran ringan. Dalam kasus patahnya pipa bawah laut akhir Maret lalu, terjadi penyusutan minyak di dalam tangki sebanyak 49 sentimeter per jam.

Minyak dari pipa di Lawe-Lawe terus keluar. Begitu juga yang dari kilang di Balikpapan. Informasinya baru ditutup sekira pukul 08.00 pagi pada 31 Maret 2018.

Polda Kaltim pada 26 April juga sudah menetapkan nakhoda kapal MV Ever Judger, Zhang Deyi (ZD), sebagai tersangka putusnya pipa minyak milik Pertamina di Teluk Balikpapan yang terjadi 30 Maret lalu.

ZD pun sudah ditahan. Sementara IS adalah tersangka kedua sejak ditetapkan pada 18 Mei lalu. Keduanya disangkakan Pasal 98 Ayat 1, 2, 3 juncto Pasal 99 Ayat 1, 2, 3 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu, Pasal 359 KUHP tentang Kelalaian mengakibatkan orang lain meninggal.

“Belum ada penambahan tersangka. Kasus masih terus bergulir,” ungkap Yustan Alpiani, Dirreskrimsus Polda Kaltim.

(jpg/est/JPC)