Kamu Alumni UMM? Jepang Tawarkan 57 Jenis Pekerjaan Lho

Kampus Wajib Beri Peluang ke Mahasiswa

Rektor UMM menyalami para maba yang telah diterima melalui tes reguler gelombang 1, Minggu (27/5)

MALANG KOTA – Kampus-kampus di Kota Malang kian gencar membuka peluang kerja sama dengan dunia internasional. Paling gres adalah apa yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kampus ini membuka peluang agar lulusannya bisa bekerja di Jepang.

Hal ini disampaikan oleh Rektor UMM Drs Fauzan MPd dalam pertemuan dengan wali murid maba (mahasiswa batu) jalur undangan di Dome UMM kemarin (27/5).

”Baru saja ada skema 57 jenis pekerjaan dari Jepang yang ada dalam program kerja sama UMM dengan Jepang,” ucapnya.

Pekerjaan-pekerjaan itu, menurut dia, disebar ke seluruh fakultas di UMM. Tidak melulu sains, ada juga pekerjaan bidang humaniora.

Lalu, mengapa patokannya Jepang? Menurutnya, ini karena Jepang dianggap memiliki pengelolaan pekerjaan yang berstandar tinggi. Daya saing pekerja Jepang juga diakui secara internasional.

”Misal, mahasiswa S-1 yang siap join degree, nanti bisa studi di sini dulu tiga tahun. 1 tahun selanjutnya langsung bekerja dan mendapat sertifikat profesi internasional,” ujarnya.

Fauzan mengatakan, persaingan antarindustri yang ketat bukan lagi tanggung jawab individu atau mahasiswa itu sendiri. Kampus pun harus menyiapkan wadah bagi mahasiswa agar memilki sertifikasi internasional.

”Nanti mahasiswa memiliki keahlian ganda. Misalnya, selain terjun ke lapangan kerja, bisa menciptakan lapangan kerja sendiri,” jelas dia.

Hal ini sudah diterapkan pada angkatan pertama sertifikasi April kemarin. Khusus Jurusan Kesehatan, UMM bahkan sudah menerapkan kerja sama dengan Jepang di dalamnya.

”Asumsinya, bisa belajar bahasa Jepang untuk dipekerjakan. Dan sudah saya tinjau, banyak yang berjalan baik,” tambah Fauzan.

Kerja sama ini bertujuan agar sertifikat yang dimiliki mahasiswa umum tak hanya nasional, tapi juga internasional.

”Untuk memberikan kompetensi dan pengakuan kepada mahasiswa, selain menguasai bidangnya, mereka bisa mencoba profesi di luar bidang,” ujarnya.

Sebelumnya Fauzan juga sudah sempatkan kerja sama dengan Erasmus Mundus untuk mengakomodasi mahasiswa yang siap belajar atau bekerja di luar negeri. ”Kalau dulu hanya bagi mahasiswa, kali ini dosen juga bisa ikuti Erasmus Mundus,” kata Fauzan.

Dengan ikut Erasmus Mundur, Fauzan berharap dosen bisa kembali ke UMM dan menularkan ilmu. ”Dari situ, perkembangan insdurtial atau ilmu terbarukan bisa diterapkan langsung. Mahasiswa lulus sudah ada skill (kemampuan),” pungkasnya.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Istimewa