Kami Ini Pasukannya Aremania

Sejarah Arema membentang selama 30 tahun. Antara 11 Agustus 1987 hingga hari ini (11/8), ada banyak hal yang terjadi. Bahkan, ada cerita-cerita dan fakta yang mungkin tak disadari, atau tak diketahui banyak orang. Apa saja?

Di tim Arema, tak ada orang lain yang punya masa pengabdian paling lama seperti Joko ”Gethuk” Susilo. Bisa jadi, rekor Gethuk ini akan sulit terlampaui, setidaknya untuk satu dekade ke depan.

Gethuk sudah menghabiskan 20 tahun 8 bulan masa hidupnya untuk Arema. Melihat usia Gethuk yang saat ini menginjak usia 46 tahun, bisa dibilang bahwa hampir separo hidupnya dia curahkan untuk Arema.

Gethuk masih ingat, masa pengabdiannya itu bermula pada Januari 1992.  Sebagai pemain, Gethuk waktu itu datang setelah sebelumnya memperkuat Mitra Surabaya. ”Tak lama setelah bergabung, Arema juara,” kata pria kelahiran Cepu, 9 Desember 1970, ini.

Ya, Gethuk mengawali karirnya bersama Arema  dengan meraih Piala Galatama 1992/1993. Meski berhasil meraih juara, karirnya bersama Arema tak selalu berjalan mulus. ”Pahit, manis, dan getir, itu semua terekam. Dan, saya rasakan semua menjadi rangkaian yang indah,” ujarnya.



Dia pernah mengalami bagaimana sulitnya menjadi pemain Arema, klub yang waktu itu kondisi finansialnya pas-pasan. ”Sering kali saya harus menahan haus dan lapar saat laga away. Kalaupun makan, itu makan nasi bungkus. Lalu bus yang ditumpangi oleh tim itu bocor atapnya. Belum lagi kalau dilempari batu (oleh oknum suporter lain),” ungkap dia.

Tapi, perjuangan itu seketika terbayar ketika tim meraih kemenangan, lalu diarak oleh Aremania. ”Itu menjadi kebanggaan pemain dan pelatih,” kata bapak lima anak ini.

Kebanggaan itulah yang membuat Gethuk mau bermain untuk Arema. Meski dari sisi finansial, kehidupannya sebagai pemain bola waktu itu tidaklah menjanjikan.  ”Gimana ya, marem (senang, puas) gitu lho. Kami ini (tim Arema) jadi pasukan dari Aremania. Mereka pemilik kami. Itu susah dimaterikan,” kata dia.

Meski tidak lahir di Malang, Gethuk merasa sudah tak bisa dipisahkan dari Arema. Dia sudah kadung menganggap Arema sebagai tempat kelahirannya. ”Saya lahir dari Arema. Saya total jadi Aremania,” kata dia.

Gethuk memang  pernah meninggalkan Arema. Itu terjadi saat dia bergabung dengan PSM Makassar (1996–1997) dan Persija Jakarta (1997–1998). Tapi setelah itu, tempat kembalinya hanya Arema. Dia kembali memperkuat Arema pada 1998.

Selama menjadi pemain Arema, Gethuk tidak ingat berapa jumlah golnya. Yang jelas, golnya tak sebanyak Singgih Pitono, striker Arema peraih dua gelar top scorer liga.

Sebagai second striker, kesempatan bagi Gethuk untuk membuat peluang di depan gawang lawan tak sebanyak Singgih. Tapi, sekalinya mencetak gol, Gethuk memberi kontribusi besar untuk Arema.

Dia sering membuat gol tunggal yang membuat Arema menang. ”Kalau Arema menang 1-0, biasanya itu gol saya. Kalau (Arema) menang dua gol, itu bukan saya,” kata dia.

Setelah pensiun pada 2003, pengabdian Gethuk masih berlanjut. Dia dipercaya menjadi pelatih Akademi Arema sejak tahun 2004.

Hingga akhirnya, bakat Gethuk ditemukan oleh Miroslav Janu. Pelatih berkebangsaan Ceko itu memberi kesempatan bagi Gethuk untuk mendampinginya sebagai asisten pada 2007.

Setelah era Janu, posisi pelatih kepala diduduki oleh sejumlah nama. Baik lokal maupun asing. Tapi, siapa pun head coach-nya, Gethuk selalu ada dalam jajaran staf kepelatihan.

Gethuk seolah menjadi sosok yang tak tergantikan. Bahkan, pelatih yang belum lama ini mengantongi lisensi kepelatihan A AFC itu beberapa kali dipercaya sebagai caretaker (pelatih kepala sementara).

Tahun ini, dia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi pelatih kepala Arema FC, setelah mundurnya Aji Santoso pada pertengahan musim Liga 1. Manajemen memberi Gethuk kepercayaan, setidaknya hingga akhir musim.

Kalau berhasil, Gethuk bisa lebih lama menjabat sebagai head coach. Kalau tidak, Gethuk mungkin akan kembali menjadi asisten pelatih.

Tapi, soal masa depan, Gethuk tak mau ambil pusing. ”Kalau saya tidak jadi pelatih kepala, mungkin akan jadi asisten. Tapi kalau tidak dipercaya jadi asisten pelatih, mungkin saya akan bantu di Akademi Arema. Kalau tidak dipakai di Akademi Arema, saya mungkin akan kembali ke tribun. Saya Aremania,” pungkasnya.

”Kalau saya tidak jadi pelatih kepala, mungkin akan jadi asisten. Tapi kalau tidak dipercaya jadi asisten pelatih, mungkin saya akan bantu di Akademi Arema. Kalau tidak dipakai di Akademi, saya mungkin akan kembali ke tribun. Saya Aremania,” pungkasnya.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati