Kadisdik Beri Dua Jempol Tari Remo-Rumah Satwa

MALANG KOTA – Proses penjurian Green School Festival (GSF) 2018 kemarin (12/9) berbeda dari biasanya. Bahkan, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Malang Dra Zubaidah yang hadir dalam penjurian dibuat kagum dengan penampilan tarian dari siswa SDN Kebonsari 3 Kota Malang.

Zubaidah yang hadir ditemani General Manager Jawa Pos Radar Malang Don Virgo disuguhi tarian tradisional Remo dan Perak. Tarian tradisional ini mendapatkan apresiasi dari Zubaidah. Apalagi dalam teknisnya bukan hanya siswa yang terlibat, wali murid pun juga dilibatkan. ”Ini contoh yang bagus dengan bekerja sama dengan wali murid dalam menyukseskan pendidikan,” ucapnya.

Dalam tarian tradisional Remo yang ditampilkan seorang siswi bernama Dinda Dwi Arimbi Budiarto, 10, ini membuat Zubaidah menirukan gerakan si penari. ”Hal-hal seperti ini yang perlu diekspos dan dikenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.

Dalam kunjungannya kemarin, Zubaidah disuguhi inovasi-inovasi lingkungan yang bagus dan inspiratif. Salah satunya simulasi Save Water yang berguna dalam memanfaatkan air dari alam untuk kebutuhan sehari-hari. ”Ini idenya kreatif dan inspiratif banget,” ujarnya. Selain itu, dia juga disuguhi Rumah Satwa dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) wudu hasil kerja sama antara sekolah dan wali murid.

Didik Eko Wiyono, 52, kepala SDN Kebonsari 3, menyatakan, inovasi Rumah Satwa itu berguna untuk memelihara hewan hasil dari sumbangan siswa dan wali murid. Dari Rumah Satwa itu jugalah, para siswa bisa belajar dan mengenali secara langsung hewan yang sedang dipelajari. ”Ada ayam, burung, dan masih banyak lagi. Jadi, kami tidak jauh-jauh dalam praktiknya,” ujar pria yang sudah 2 tahun lebih menjadi kepala sekolah itu.



Selain itu, penggunaan IPAL di sekolah lebih memanfaatkan untuk budi daya lele. Di mana sisa air wudunya itu ditampung dalam kolam yang berisi lele. Jadi, ketika sudah besar sekolahnya memanen lele dari hasil budi daya itu. ”Enak kan. Jadi, kami bukan hanya memanfaatkan untuk kebaikan lingkungan saja. Tapi, bisa bermanfaat untuk sekolah,” jelasnya.

Hal sama juga dilakukan SDN Pisang Candi 2 dengan menyuguhkan tarian tradisional dan breakdance untuk menyambut tim juri GSF 2018 yang datang. Tim juri juga disambut dengan pakaian-pakaian tradisional yang terbuat dari koran bekas.

Kepala SDN Pisang Candi 2 Drs Sugeng SPd MPd menyampaikan, dalam inovasi lingkungan, sekolahnya menerapkan sistem memanfaatkan sesuatu yang dianggap tidak berguna. Salah satunya koran bekas yang dijadikan berbagai macam barang. Seperti tempat pensil, hiasan pot bunga, pigura, celengan, dan juga rumah-rumah adat dari stik es krim. ”Memang, selain diberi bekal pelajaran umum. Para siswa kami juga diberi pelajaran untuk memanfaatkan sesuatu yang tidak terpakai menjadi barang bermanfaat,” ujarnya.

Selain itu, untuk inovasi lingkungan di sekolahnya, Sugeng memanfaatkan lingkungan di sekolahnya untuk budi daya berbagai buah dan sayuran. Di samping sebagai pembelajaran kepada siswa, juga bermanfaat buat lingkungan di sekolahnya agar terlihat hijau. ”Jadi, para siswa tidak hanya dapat ilmu, tapi langsung praktik bagaimana cara memanfaatkan lingkungan sekitarnya,” pungkasnya.

Pewarta: Moh Badar Risqullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono