Julang Pujianto, Arek Trenggalek Dipercaya Presiden Jadi Duta Besar RI untuk Suriname

Julang Pujianto saat dilantik Presiden Joko Widodo

JAKARTA – Di antara 16 Duta Besar RI yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada Senin, 7 Januari 2019, terdapat seorang putra terbaik Trenggalek, Jawa Timur. Julang Pujianto demikian nama lengkapnya. Beliau dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Duta Besar RI untuk Suriname merangkap Guyana berkedudukan di Paramaribo, Suriname.

Julang Pujianto bersama istri dan dua anaknya

Anak kedelapan dari dua belas bersaudara ini dikenal sebagai diplomat karir yang pantang menyerah. Julang Pujianto mulai meniti karir sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri RI sejak tahun 1986 dengan pengalaman tugas di luar negeri: PTRI New York – Amerika Serikat, KJRI Vancouver – Kanada, KBRI Brussel – Belgia dan Konsul Jenderal RI di Toronto–Kanada. Karir di dalam negeri juga bervariasi dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Amerika II Kementerian Luar Negeri RI.

Julang Pujianto adalah putra seorang guru Sekolah Dasar dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Pule, Trenggalek. Desa yang asri ini berlokasi di daerah pegunungan di bagian barat wilayah Kabupaten Trenggalek. Sehingga akses jalan untuk perdagangan dan pendidikan lebih dekat ke Kabupaten Ponorogo.

Pada tahun 1970 an, perjalanan dari Desa Sidomulyo menuju Kota Ponorogo rata-rata ditempuh empat jam. Tiga jam berjalan kaki sejauh 18 kilometer menuju Slahung, stasiun kereta api terdekat menuju Ponorogo. Dari Stasiun Slahung, dilanjutkan ke Jetis dan berakhir di Kota Ponorogo dengan satu jam naik kereta api yang dikenal dengan sebutan “sepur klutuk”. Jalur kereta api tersebut, saat ini sudah tidak aktif. Jalan desa belum beraspal. Kontur jalan yang curam naik turun lembah dan bukit serta gelap pada malam hari.

“Waktu itu, biasanya saya berangkat dari rumah pukul 3 dini hari dengan berbekal obor untuk penerangan di perjalanan,” kata Julang Pujianto. Menimbang jarak yang jauh, Julang Pujianto bersama saudara-saudaranya tinggal di rumah kos di Kota Ponorogo selama menempuh pendidikan SMP dan SMA.



Saat ini jalan raya beraspal terbentang dari Desa Sidomulyo menuju kota Trenggalek dan Ponorogo. Akses menuju Kota Ponorogo saat ini dapat ditempuh dengan mobil dan kendaraan roda dua sekitar satu jam perjalanan.

Figur sang ayah

Figur sang ayah sangat mempengaruhi Julang Pujianto dan saudara-saudaranya. “Ayah saya seorang pendidik. Beliau adalah guru Sekolah Dasar. Beliau mempunyai visi yang jelas untuk anak-anaknya,” sambung Julang Pujianto. “Ayah saya tidak mewariskan harta benda. Tetapi beliau mewariskan ilmu kepada anak-anaknya,” lanjutnya. Warisan berupa harta benda suatu saat akan habis. Akan tetapi dengan bekal ilmu, maka anak-anak suatu saat kelak akan dapat mencari penghidupannya sendiri dengan lebih baik.

Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Ponorogo, Julang Pujianto ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri dengan pilihan masuk Universitas Indonesia (UI). Namun usahanya untuk masuk fakultas kedokteran UI tidak berhasil. Kegagalannya ikut seleksi UI tidak membuat putus asa.

Untuk mempersiapkan seleksi tahun berikutnya, Julang Pujianto belajar lebih giat. Soal-soal tes yang sama khususnya matematika diulang empat kali sehari. Kegiatan belajar saya sesuaikan dengan jadwal salat. Belajar mengikuti jadwal salat, setelah Subuh, menjelang Duhur, selepas Asar dan setelah salat Isya. Bisa berulang-ulang selama berhari-hari sampai benar-benar paham.

Setahun kemudian, Julang Pujianto ikut seleksi masuk dan diterima di FISIP Unair Surabaya. Julang Pujianto juga berkesempatan melanjutkan belajar program magister (S2) di Wollongong University, Australia, dengan beasiswa. “Saat belajar di Unair, saya berkesempatan mendapatkan beasiswa dari Kemendikbud,” tutur Julang Pujianto

Pantang menyerah dan tidak putus asa

Motivasi yang membuat Julang Pujianto bersemangat sangat tinggi untuk maju adalah pesan orang tua untuk sekolah setinggi-tingginya. “Yang penting anak-anak harus sekolah dan sekolah, begitu pesan orang tua saya,” tutur Julang Pujianto. “Saya sendiri berprinsip bahwa saya mungkin bukan terbaik di kelas, tapi tidak boleh gagal,” tegas Julang Pujianto.

Selama setahun setelah gagal masuk seleksi UI, waktunya diisi dengan kursus bahasa Inggris di sebuah tempat kursus di Jakarta. Teknik imitasi dengan menghafalkan kalimat-kalimat berbahasa Inggris dipraktikkan. Untuk memperlancar kemampuan bahasa, Julang Pujianto berusaha berkenalan dan menyapa wisatawan asing di Bandara Halim Perdana Kusuma.

“Saya pernah beberapa kali menemani perjalanan orang asing sebagai pemandu. Pernah mengantar orang Jerman dari Jakarta ke Surabaya sebagai pemandu” cerita Julang.

Prinsip hidup Julang Pujianto adalah jangan pernah putus asa. Kerjakan tugas pekerjaan dengan tekun, sungguh-sungguh dan tanpa pamrih. Pimpinan akan menilai hasil pekerjaan kita. Jangan menepuk dada (sombong).

“Kemungkinan tugas saya sebagai Dubes RI di Paramaribo adalah tugas terakhir saya sebagai diplomat karir. Sehingga saya harus menyelesaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya”, katanya. Ibarat bermain golf, tugas terakhir ini sudah sampai pada “hole” terakhir. Dengan kemampuan berbahasa Jawa dan 14% warga Suriname yang keturunan Indonesia adalah aset berharga yang dapat digunakan untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Suriname.

Sejarah hidup Julang Pujianto yang penuh warna. Merantau ke Jakarta dan berangkat dari desa serta berhasil meniti karir puncak sebagai Duta Besar RI sering dipakai sebagai contoh sukses bagi para diplomat muda yang baru bergabung di Kementerian Luar Negeri. Keberhasilan Duta Besar RI di Paramaribo ini dipandang sebagai suatu bentuk usaha yang tidak pernah kenal lelah. Tidak kenal putus asa.

“Kalau saya melihat kembali ke belakang. Sejak usia 13 tahun sudah belajar mandiri, berpisah dengan orang tua dan saat ini mencapai karier puncak sebagai Duta Besar RI adalah suatu perjalanan yang sangat panjang. Di atas itu semua tentunya kita serahkan kepada Allah SWT. Semuanya merupakan anugerah Allah SWT,” tutup Julang Pujianto.

Kontributor : W Sunani Ali Asrori
Penyunting : Kholid Amrullah
Foto : Istimewa