Jokowi pun Puji Pujon Kidul

PUJON – Nama Desa Wisata Pujon Kidul kian melambung saja. Bahkan Presiden RI Joko Widodo ikut mempromosikannya ke sejumlah kepala daerah. Mereka diminta untuk berguru ke Desa Pujon Kidul.

Itu disampaikan Ketua Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (Akkopsi) Syarif Fasha dalam acara pertemuan pengurus Akkopsi di Desa Pujon Kidul kemarin.

Dalam kesempatan itu dia menyebut, pemilihan lokasi pertemuan Akkopsi di Pujon Kidul itu gara-gara Presiden RI Joko Widodo telah memviralkan bahwa desa tersebut telah menjadi salah satu andalan destinasi wisata berbasis lingkungan. Maka, para kepala daerah yang tergabung dalam Akkopsi penasaran dan sepakat menggelar pertemuan di Pujon Kidul kemarin.

Hadir dalam pertemuan itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, Plt Bupati Mojokerto Pungkasiadi, Wakil Wali Kota HM Soufis Subri, Bupati Pringsewu Sujadi, dan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar.

Hadir pula staf ahli Kabupaten Bojonegoro, staf ahli Kabupaten Pacitan, kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lamongan, kepala Dinas Pemukiman Kabupaten Madiun, kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Banjarmasin, dan kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman Kabupaten Cimahi,.



Syarif Fasha menambahkan, Kabupaten Malang telah menjadi pionir pelaksanaan advocacy and horizontal learning (AHL) yang mengusung sinergitas sanitasi dengan pariwisata.

”Kami ingin best practice inilah (Pujon Kidul) yang kemudian dibawa pulang oleh kabupaten dan kota yang menjadi anggota Akkopsi untuk direplikasi ke daerahnya masing-masing,” ujar Fasha.

Pria yang juga wali Kota Jambi itu menuturkan, Desa Wisata Pujon Kidul merupakan salah satu contoh pariwisata yang bisa bersinergi dengan lingkungan. Sehingga mengangkat ekonomi masyarakat di sekitarnya.

”Semua daerah punya sawah meskipun kecil. Nah, mencontoh Pujon Kidul ini, kenapa tidak semua kepala daerah yang menjadi pengurus Akkopsi ini mereplikasi program dan kegiatan ini di daerahnya masing-masing,” sambungnya.

Ke depan, Fasha berharap para pengelola destinasi wisata yang ada di Indonesia terlebih dahulu mempertimbangkan aspek sanitasi ketimbang atraksi yang akan mereka jual.

Fasha menilai, masih banyak kepala daerah yang belum berkomitmen terhadap pembangunan infrastruktur sanitasi. ”Misalnya dari aspek anggaran, setidaknya 5 persen dari APBD yang dialokasikan untuk peningkatan di bidang sanitasi,” terangnya.

Merespons harapan tersebut, Plt Bupati Malang H.M. Sanusi berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran guna peningkatan infrastruktur sanitasi dalam APBD secara berkelanjutan.

”Setiap tahun pasti kami anggarkan, bukan hanya melekat pada dinas cipta karya, tapi seluruh OPD yang turut serta dalam program-program peningkatan sanitasi,” kata Sanusi.

Sebagai tindak lanjut, Sanusi juga mewajibkan seluruh destinasi wisata untuk menaruh perhatian khusus terhadap akses sanitasi. ”Saya punya program Satu Kecamatan Satu Destinasi. Nah, salah satu aspek yang harus dipenuhi adalah keberadaan sanitasinya,” beber Sanusi.

Lebih lanjut, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Cipta Karya (DPKPCK) Dr Wahyu Hidayat menyampaikan, lebih dari 10 OPD yang dilibatkan guna peningkatan akses sanitasi. ”Untuk anggaran kalau ditotal kurang lebih hampir 10 persen dari APBD. Untuk cipta karya saja kami anggarkan Rp 10 miliar lebih,” ujar Wahyu.

Terpisah, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wilayah Regional II Kementerian Pariwisata Reza Fahlevi menuturkan bahwa Desa Wisata Pujon Kidul sudah memiliki modal untuk menjadi destinasi wisata di kelas nasional maupun internasional.

”Pujon Kidul sudah menyajikan paket wisata lengkap, mulai dari aspek something to see (pemandangan), something to do (kegiatan), dan something to buy (belanja), dengan terpenuhinya tiga aspek tersebut maka length of stay (lama tinggal) para wisatawan juga akan semakin panjang. Dampaknya jumlah belanja mereka pun akan semakin tinggi,” kata Reza.

Yang masih menjadi pekerjaan rumah ke depannya bagi destinasi pariwisata di Kabupaten Malang pada khususnya dan seluruh daerah pada umumnya yakni di bidang suistainable tourism serta pengembangan destinasi untuk generasi milenial.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib