Johan Menduga Salah Satu Jasad di Selat Malaka adalah Adik Kandungnya

JawaPos.com – Johan Irwandi, 40, mendatangi RS Bhayangkara Polda Riau, Minggu pagi (9/12). Pria asal Meunasah Manyang, Lhoksukon, Aceh Utara, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, itu jauh-jauh datang ke Pekanbaru untuk memastikan kabar dan keberadaan adik kandungnya, Fahrul Rozi, 27.

Ia menduga, Fahrul termasuk salah satu dari 11 jenazah yang ditemukan mengapung oleh nelayan di perairan Selat Malaka, akhir bulan lalu. Belasan jasad itu diduga adalah korban kapal yang tenggelam.

“Kebetulan adik saya terakhir kontak dengan saya tanggal 20 November, sampai sekarang putus kontak. Kami beranggapan, apakah adik kami termasuk korban tenggelam di Dumai,” kata Johan.

Salah satu mayat yang ditemukan mengambang di Selat Malaka, Kamis (30/11). (Istimewa)

Sebelum hilang kontak, Fahrul sempat mengabari keluarganya di kampung bahwa ia akan kembali ke Indonesia setelah 2 tahun bekerja di Malaysia. “Di sana bekerja di sebuah usaha, tapi dia bukan buruh. Saya kurang jelas tahu usahanya apa, yang jelas dia di sebuah kantor,” ungkapnya.

Setelah menghubungi keluarganya, keesokan harinya nomor telepon Fahrul tak aktif lagi. Keluarga sudah berusaha menghubunginya, namun apalah daya, hasilnya masih nihil hingga sekarang. Mereka hanya bisa pasrah dan mencoba berpikir positif kalau Fahrul akan tiba di Aceh dengan kondisi sehat dan bugar.

“Jadi saya mengambil keputusan datang ke sini (Pekanbaru, Red). Saya ingin melihat bukti kuat yang ditemukan tim medis, apakah ada indikasi adik saya atau tidak,” tutur Johan.

Johan tiba di RS Bhayangkara Polda Riau sekitar pukul 10.00 WIB. Ia mendapatkan informasi adanya belasan jasad tanpa identitas yang ditemukan di perairan Selat Malaka dari pemberitaan media massa.

“Saya dapat informasi di sini (RS Bhayangkara Polda Riau, Red). Terakhir koordinasi dengan teman saya di Aceh, semua jenazah yang ada di Selat Malaka berada di Pekanbaru,” sebutnya.

Setibanya di rumah sakit yang terletak di Jalan Hangtuah tersebut, Johan langsung diperiksa oleh tim DVI. Dia dimintai bukti-bukti mengenai identitas adiknya. “Saya bawa fotokopi KTP, ijazah dan kartu keluarga. Juga bawa beberapa foto Fahrul. Tapi saya harap semoga bukan,” ujarnya.

Secara terpisah, Kasubbid Yanmed Dokkes RS Bhayangkara Polda Riau Kompol Supriyanto mengatakan, pihaknya sudah mengambil data-data yang diperlukan dari Johan. “Sudah diambil data-datanya. Termasuk dokumen antemortemnya, seperti foto-foto dan pakaian terakhir yang digunakan,” kata Supriyanto yang juga sebagai Wakil Ketua Tim DVI.

Selain itu, pihak keluarga juga sudah diinterogasi oleh penyidik dari Polres Bengkalis, Polda Riau. Dengan kedatangan Johan ke posko antemortem dan posmortem, maka sudah ada 12 warga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya. “Sampai saat ini sudah 12 laporan orang hilang yang kami terima,” imbuhnya.

Dari 11 jasad yang ditemukan, 10 di antaranya dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Riau guna dilakukan identifikasi. Sedangkan 1 mayat sudah dikebumikan di Dumai.

Sementara 4 jasad sudah teridentifikasi identitasnya. Dua jenazah asal Sumatera Barat (Sumbar), yakni Ujang Chaniago, 48, yang dibawa ke Padang; dan Mimi Dewi, 32, dibawa ke Painan.

Kemudian Marian Suhadi, 24, dibawa ke Langkat, Sumatera Utara: dan Paisal Ardianto, asal Dusun Gelam Dua, Kelurahan Bandar Khalipah, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

(ica/JPC)