JK: Jangan Kalau Angka Kemiskinan Turun Bilang Salah Data | JawaPos.com

JK: Jangan Kalau Angka Kemiskinan Turun Bilang Salah Data | JawaPos.com

JawaPos.com – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyebut kondisi kemiskinan Indonesia dalam lima tahun terakhir justru semakin parah. Bahkan, dia menyebut terjadi 50 persen penambahan kemiskinan.

Hal senada disampaikan oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dia menyebut jika ada sekitar 100 juta penduduk yang masuk kategori miskin. Ungkapan yang disampaikan oleh SBY justru bertolak belakang dengan data yang disampaikan BPS.

Angka kemiskinan yang dicatat BPS pada Maret 2018 tercatat 25,95 juta orang (9,82 persen) atau turun 633,2 ribu orang dibandingkan September 2017 yang sebesar 26,58 juta orang (10,12 persen).

Pertemuan Prabowo-SBY (Hendra Eka/JawaPos.com)

Pernyataan kedua pentolan partai itu lantas direspon oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Menurutnya, yang telah dicapai oleh pemerintah harus diapresiasi dan bukan dicari-cari kesalahannya.

“Angka kemiskinan dirilis oleh BPS sedikit menurun, single digit walaupun ada dua pihak yang memberikan alasan-alasan berbeda. Namun, sekali kita menerusi jangan angkanya menarik, kita setuju BPS kalau angkanya tidak menarik, kita tidak setuju BPS,” ujarnya dalam acara Bussines Launch di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (2/8).

Sebagai lembaga independen, JK menilai BPS melakukan metode penelitian dengan cara-cara yang sudah diakui dunia. Tidak ingin menyalahkan, namun JK menilaikedua tokoh partai tersohor itu seharusnya menerima fakta dan data yang ada. Menurutnya, jangan sampai apa yang disampaikan keduanya justru malah membuat runyam situasi.

“Memakai data BPS, ya kita pakai data BPS, karena satu yang penting ialah suatu trennya. Trennya menurun ya menurun, jangan kalau turun (bilang) salah itu data. Jadi ini yang penting untuk kita juga pahami,” tandasnya.

(hap/JPC)