Jembatan Terdampak Banjir Tunggu Agenda PAK

DAU – Pasca terputusnya akses jembatan penghubung antara Desa Gadingkulon dan Desa Selorejo, Kecamatan Dau, pada 30 Januari lalu, hingga kini belum ada tanda-tanda jembatan alternatif tersebut akan dibangun. Bupati Malang Drs H.M. Sanusi MM menuturkan bahwa untuk sementara pihaknya telah menyiapkan jembatan darurat dari bambu untuk menghubungkan kedua desa tersebut.

”Kalau anggarannya harus menunggu perubahan anggaran keuangan (PAK), kalau sekarang tidak bisa karena kan anggarannya sudah berjalan,” kata Sanusi saat ditemui di Pringgitan Pendapa Agung Kabupaten Malang Rabu (12/2).

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menjelaskan, secara aturan pihaknya tidak boleh mengeluarkan anggaran di luar dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020. Seperti diketahui, sebelumnya muncul desas-desus bahwa ada manipulasi anggaran yang dilakukan oleh pejabat terkait pembangunan jembatan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Sanusi menuturkan bahwa sampai kemarin dirinya masih belum mendapat laporan. ”Saya belum dapat laporan itu. Sepengetahuan saya setelah melihat kondisi langsung di lapangan, konstruksi jembatan sebenarnya cukup bagus karena saat jatuh pun kondisi badan jembatan tidak retak,” jelasnya.

Pria berusia 59 tahun itu menyebutkan bahwa ambrolnya jembatan penghubung tersebut disebabkan terjadinya pendalaman di bagian fondasi jembatan. ”Cerita orang di sana itu sepanjang hidup di sana tidak pernah banjir. Tapi, akibat kebakaran hutan yang terjadi saat musim kemarau lalu banyak material seperti kayu dan lumpur yang terbawa arus. Karena volumenya besar, muatan tersebut menggerus bagian dasar sungai,” kata Sanusi.

Selain membangun jembatan darurat, bapak empat anak itu juga memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang untuk melakukan kajian terhadap kondisi tanah di sekitar jembatan.

”Yang jelas jatuhnya (jembatan) bukan karena konstruksi yang kurang bagus,” tegasnya. Terpisah, Kepala DPUBM Kabupaten Malang Ir Romdhoni menuturkan bahwa kerusakan konstruksi bangunan karena bencana tidak termasuk dalam peruntukan anggaran darurat.

”Kalau untuk pembangunan baru atau rekonstruksi itu tetap harus melalui program (perencanaan) lagi,” kata dia. Begitu pun dari aspek pertimbangan kegunaan jembatan. Mantan kepala dinas cipta karya itu menuturkan bahwa pemanfaatan jembatan tersebut lebih banyak digunakan untuk mendukung wisata petik jeruk. ”Kalau untuk akses umumnya relatif kecil, karena jembatan tersebut sifatnya lokal,” imbuhnya.

Sebagai antisipasi, Romdhoni menuturkan bahwa saat ini pihaknya juga sedang mempersiapkan desain jembatan baru yang rencananya akan dibangun di sana. ”Kalau penganggarannya pada 2020 ini kan sudah final.

Sehingga alternatifnya nanti menunggu kalau ada kesempatan pergeseran anggaran. Tapi, kalau semuanya ternyata urgensinya tinggi, maka kami carikan alternatif lainnya,” sambung Romdhoni.

Dia juga menuturkan bahwa pihaknya akan melakukan rekonstruksi di bagian fondasi jembatan. Jika sebelumnya kedalaman sungai hanya 3 meter, pascabanjir kedalaman sungai kini menjadi 6 meter. Anggaran yang dibutuhkan guna pembangunan jembatan tersebut diperkirakan mencapai Rp 500 juta.

”Mungkin nanti kami akan melakukan perubahan konstruksi di fondasi karena permukaan dasar sungainya sudah mengalami penurunan yang cukup ekstrem dari kondisi. Kalau jenis konstruksi (jembatannya) masih sama jembatan beton,” tutup Romdhoni.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya