Jelang Nyepi, Ogoh-Ogoh Dikebut

PAKISAJI – Beberapa hari terakhir, umat Hindu di Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, ini sedang sibuk-sibuknya. Seperti biasa, menjelang perayaan Hari Raya Nyepi 1940 pada 17 Maret 2018, mereka mulai aktif membuat ogoh-ogoh. Cipto Eko, salah satu warga Dusun Karang Tengah, Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, ini mengaku sudah sibuk membuat ogoh-ogoh sejak tiga pekan belakangan. Bahan baku bambu, kertas, dan styrofoam dia pergunakan.

”Ogoh-ogoh ini simbol angkara murka, yang kami percaya dengan dibakarnya ogoh-ogoh maka akan hilang juga segala bentuk keburukan yang ada di sekitar kami,” ujarnya.

Tidak ada tema khusus untuk patung raksasa tersebut, yang penting harus mewakili simbol makhluk yang sarat dengan keburukan. ”Makanya kebanyakan bentuk ogoh-ogoh itu buruk rupa, karena patung ini mewakili sifat setan yang buruk,” tambahnya.

Dia sendiri membentuk sebuah sosok naga berwarna hijau dengan tinggi sekitar 2 meter. Patung-patung raksasa buatan warga tersebut bakal dibakar dalam upacara Tawur Kesana besok (15/3). Sebelum itu, ogoh-ogoh bakal diarak keliling kampung. Diperkirakan ada 40 patung raksasa bikinan warga yang bakal mewarnai jalannya upacara.

Dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, bisa dipastikan acara tersebut bakal menyita perhatian warga. ”Sudah dari dulu seperti itu, kalau waktunya Nyepi pasti semua masyarakat di sini menyambut dengan sukacita tanpa ada sekat meski berbeda keyakinan,” tutup Eko.

Pewarta : Farik Fajarwati
Penyunting : Bayu Mulya
Copy Editor : Dwi Lindawati
Foto : Bayu Eka