Jelang KLB, Calon Exco PSSI Kupas Problematika Timnas Indonesia di Surabaya

SURABAYA – Menjelang Kongres Luar Biasa PSSI pada 2 November mendatang, beragam problematika masih mewarnai Timnas Indonesia. Dari kurangnya pembinaan pemain muda, stagnasi performa, hingga jadwal pertandingan yang kerap bertabrakan dengan klub.

Pada Diskusi Sepak Bola Nasional yang digelar Jawa Pos (23/10), calon komite eksekutif (exco) PSSI mengungkapkan masalah-masalah terkait timnas memiliki benang merah yang sama.

Ahmad Riyadh, Ketua Umum Asprov PSSI Jatim menjelaskan, saat ini hanya ada 30 persen pemain senior yang memiliki jejak prestasi di liga sepak bola tanah air. “Konsentrasi pemain usia muda itu perlu. Seperti afiliasi SSB dan PSSI,” ungkapnya.

Senada dengan Riyadh, Ketum Asprov PSSI Jatim, Ahmad Syauqi Suratni mengungkapkan regional base harus diperkuat. Caranya, menumbuhkan budaya sepak bola sejak dini. “Youth development
ultimate way to develop football civilization,” tegasnya. Syauqi menilai memperbanyak kompetisi di tingkat regional sangat diperlukan.

Dari regional base, pengembangan dilanjutkan dengan berbasis klub atau club base. PSSI harus melibatkan klub, khususnya dalam penentuan jadwal pertandingan timnas. “Tak jarang pemain harus berkorban. Setelah bermain di timnas, tak lama harus kembali ke klub. Terbentur asas profesionalitas tim,” ungkap Viola Kurniawati, mantan CEO PSS Sleman.

Pembinaan optimal pemain muda pada level regional dan perhatian untuk klub menjadi 2 poin penting untuk memecah benang kusut Timnas indonesia.

Pewarta : Zhavirra Noor Rivdha
Foto : Zhavirra Noor Rivdha
Penyunting: Fia