Jelajah Pesantren di Kampung Minoritas Muslim (26)

INDRA MUFARENDRA/RADAR MALANG SEDERHANA: Seperti inilah Langgar Waqaf Al Ikhlas yang berada di Dusun Krajan, Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

Selain TPQ dan Madin Darul Huda, masih ada satu tempat belajar Alquran lainnya di Desa Suwaru. Berlokasi di Dusun Krajan, TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas menjadi penerang bagi 26 anak-anak muslim yang saat ini belajar di sana.

TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas maupun TPQ dan Madin Darul Huda sama-sama berada di Desa Suwaru, desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Namun, TPQ dan Madin ini masih ”lebih beruntung” karena berada di Dusun Recobanteng, sebuah kawasan di Desa Suwaru yang warganya banyak memeluk agama Islam.

Sementara di Dusun Krajan, menjadi salah satu dusun yang warganya banyak memeluk agama Kristen. Kesan kampung Kristen bisa dilihat dari model rumah dan penataan kawasannya.

Bagi Anda yang pernah ke Desa Peniwen maupun Desa Sitiarjo, mungkin bisa melihat persamaannya. Di antaranya, sebagian besar bangunan rumahnya merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda. Kemudian, pagar-pagar rumahnya terbuat dari tanaman hidup. Ciri lainnya adalah, anjing-anjing bebas berkeliaran di sini.

Nah, di salah satu sudut Dusun Krajan, berdiri sebuah langgar. Al Ikhlas, begitu nama langgar itu yang memiliki ukuran luas sekitar 7×7 meter.

Selain menjadi tempat ibadah, langgar itu juga menjadi pusat kegiatan belajar Alquran di Dusun Krajan. TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas sudah eksis sejak 2015 lalu.

TPQ itu dirintis Setyono, seorang perangkat Desa Suwaru. Sebelum membuka TPQ di Dusun Krajan, Setyono sempat membantu perkembangan TPQ dan Madin Darul Huda di Dusun Recobanteng. Kebetulan, rumah Setyono juga bersebelahan dengan TPQ dan Madin Darul Huda.
Semula, ada sejumlah anak dari Dusun Krajan yang nyantri di TPQ dan Madin Darul Huda. ”Tapi, lama-kelamaan kami berpikir bahwa kasihan anak-anak itu karena harus menempuh perjalanan jauh,” ujar pria berusia 37 tahun tersebut.

Setyono lantas berinisiatif membuka TPQ di Dusun Krajan, memanfaatkan Langgar Waqaf Al Ikhlas yang sudah lebih dulu ada. ”Waktu pertama buka, ada 10 anak yang belajar ngaji di TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas. Kalau sekarang, ada 26 anak, tapi yang aktif sekitar 15 anak,” katanya.

Usia santri di TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas beragam. Mulai dari yang paling muda empat tahun hingga remaja 15–16 tahun. Mereka belajar di bawah bimbingan tiga pengajar yang mengajar secara bergantian.

Kegiatan di TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas berlangsung setiap hari, kecuali Jumat. Mulai pukul 15.00–17.00.
Setyono menyatakan, TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas memang tidak menerapkan iuran rutin. ”Tapi setiap Rabu, anak-anak bisa membayar secara sukarela. Tujuannya untuk melatih anak-anak itu bersedekah,” ujar dia.

Toh, uang urunan itu nantinya juga kembali kepada anak-anak. ”Kami gunakan untuk operasional. Termasuk membeli alat-alat tulis,” kata dia.

Selama tiga tahun mengelola TPQ di Langgar Waqaf Al Ikhlas, ada sejumlah tantangan yang dihadapi Setyono. Salah satunya adalah sulitnya mengajak orang tua untuk peduli pada pendidikan agama anak-anaknya. ”Kesadaran orang tua di sini minim,” ujar dia.
Karena itu, pengajar di TPQ Langgar Waqaf Al Ikhlas harus jemput bola mengajak anak-anak muslim di Dusun Krajan.

Kemudian, soal kesejahteraan guru ngaji juga masih jauh dari harapan. ”Setiap tahun, kami hanya mendapatkan insentif dari Kemenag sebesar Rp 500 ribu untuk dua guru. Padahal, di TPQ ini ada tiga guru. Jadi, uang itu kami bagi bertiga,” ujar dia.

Lalu, bagaimana hubungan dengan warga sekitar yang didominasi nonmuslim? ”Tidak masalah, hubungan kami baik. Selama ini juga tidak ada pertentangan,” kata dia. Sebagai perangkat desa, Setyono tahu betul masyarakat Desa Suwaru menjunjung tinggi toleransi.

Pewarta: Mufarendra
Editor; Dwi Lindawati