Jelajah Pesantren di Kampung Minoritas Muslim (22)

Berkat Poktan, Bina Baca Qur’an Tak Lagi Ditentang

Butuh upaya keras untuk mendirikan sebuah pusat kegiatan agama Islam di Dusun Jengglong, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir. Bahkan, pada mulanya, niat mulia warga muslim itu sempat mendapatkan pertentangan.

Fatkhur Rahman, salah seorang perintis berdirinya Bina Baca Qur’an (BBQ) Darul Pangastuti, mengenang bahwa butuh upaya keras agar warga muslim di Dusun Jengglong, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, ini bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang. Apalagi, pada mulanya, sejumlah warga nonmuslim di Dusun Jengglong sempat menentang rencana pendirian BBQ Darul Pangastuti.

Seperti diberitakan sebelumnya, pendirian BBQ Darul Pangastuti berangkat dari keinginan warga muslim di dusun tersebut untuk memiliki tempat peribadatan sendiri. ”Tapi, warga sekitar sini (yang nonmuslim) keberatan kalau harus dibangun tempat peribadatan,” ujar dia.
Akhirnya, dari pertemuan yang digelar di Balai Desa Sukodadi, muncul kesepakatan-kesepakatan. ”Warga meminta tempat ini jangan digunakan salat. Tapi, kalau untuk tempat pendidikan, tempat belajar mengaji, itu tidak masalah,” ungkap dia.

Kala itu, Fatkhur dan rekan-rekannya tidak punya pilihan lain selain mematuhi kesepakatan itu. Termasuk juga soal adanya larangan penggunaan pengeras suara. ”Karena itu, pada awalnya, tempat ini murni untuk tempat belajar Alquran. Untuk salat berjamaah, misalnya Tarawih, dilakukan bergiliran di rumah-rumah warga yang muslim,” jelas pria yang bekerja sebagai peternak ini.

BBQ Darul Pangastuti seperti diketahui dibangun di lahan wakaf milik Sunardi, warga setempat. Sedangkan untuk pembangunannya, BBQ Darul Pangastuti mendapatkan bantuan dari 11 dosen Universitas Brawijaya (UB). Adapun, BBQ ini rampung dibangun dan bisa digunakan sejak awal 2016.

Meski sempat mendapatkan pertentangan, tapi Fatkhur percaya bahwa suatu saat warga nonmuslim di Dusun Jengglong bisa menerima keberadaan BBQ Darul Pangastuti sepenuhnya. Karena itulah, Fatkhur memanfaatkan Kelompok Tani Rukun Amanah yang dia bentuk bersama sang adik, Mansyur Arif.

Kelompok Tani (Poktan) Rukun Amanah, seperti diketahui awalnya dirintis di Dusun Jamuran. Tapi, anggotanya kemudian berkembang ke dusun-dusun lain di wilayah Desa Sukodadi. ”Kami coba merangkul warga di Dusun Jengglong. Tak terkecuali mereka yang nonmuslim,” ujar dia.

Lewat kelompok tani itu, para petani bisa merasakan banyak manfaat. Mulai dari pelatihan-pelatihan hingga memperluas jaringan pemasaran produk. ”Paling utama, mereka bisa mengakses kredit dari perbankan. Salah satunya program kredit usaha rakyat (KUR) dari BRI,” jelas pria yang menjadi penyuluh agama Islam di kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Malang ini.

Dari kelompok tani itulah, akhirnya timbul kedekatan antara Fatkhur dengan warga nonmuslim di Dusun Jengglong. ”Dulu, jangankan menyapa, melihat ke arah saya pun tidak. Tapi, sekarang kondisinya berbeda. Warga bahkan sering kali menyapa saya lebih dulu,” kata dia.

BBQ Darul Pangastuti pun merasakan dampak positif dari cairnya hubungan antara Fatkhur dengan warga nonmuslim di Dusun Jengglong. ”Sejak Ramadan tahun lalu, kami sudah bisa melaksanakan salat berjamaah di tempat ini (BBQ Darul Pangastuti),” ujar dia.
Kemudian, sejumlah agenda pengajian juga rutin diadakan di BBQ Darul Pangastuti. ”Termasuk pengajian khusus mualaf di dusun ini,” pungkas dia.

Pewarta: Mufarendra
Editor: Dwi Lindawati