Jazilul Fawaid: Empat Pilar Sudah Menjadi Bagian Keluarga Besar Ansor

Jazilul Fawaid: Empat Pilar Sudah Menjadi Bagian Keluarga Besar Ansor - JPNN.com

Wakil Ketua MPR RI, H. Jazilul Fawaid SQ, MA sosialisasi Empat Pilar di Pondok Pesantren Al Istiqomah Meruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Sabtu (14/12). Foto: Humas MPR for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI, H. Jazilul Fawaid SQ, MA, mengajak seluruh pemuda, khususnya Pemuda Ansor, menjadi agen penguatan Empat Pilar. Salah satu caranya adalah menerapkan nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Jazilul, bagi Pemuda Ansor, Empat Pilar bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan, sedari dulu, Ansor sudah berinteraksi secara baik dan harmonis dengan Empat pilar.

Bagi Ansor, sejak awal Pancasila menjadi dasar dan landasan berorganisasi. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan, yang sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan NKRI menjadi bentuk negara yang sudah final dan harga mati. Sedangkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan sebagai konstitusi negara.

“Tidak berlebihan jika Ansor menjadi bagian dari agen penguatan Empat Pilar hingga ke pelosok desa. Karena bagi Ansor, Empat pilar bukan sesuatu yang baru, bahkan sudah menjadi bagian dari keluarga besar Ansor itu sendiri,” kata Jazilul dii hadapan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/12).

Jazilul Fawaid menyampaikan hal itu saat memberikan sosialisasi empat pilar kepada Generasi Muda Ansor Cabang Kabupaten Bandung. Acara tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Al Istiqomah Meruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Sabtu (14/12).

Ikut hadir pada acara tersebut, anggota MPR Fraksi PKB Cucun Ahmad Syamsurijal, Pengasuh Ponpes Al Istiqamah KH. Ahmad Fauzi dan Ketua Umum Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bandung Hasan Basri.

Pada kesempatan tersebut, Jazilul meminta jajaran Pemuda Ansor Bandung tidak mudah terprovokasi dengan banyaknya kekerasan dan pikiran keras terhadap negara. Yaitu pemikiran-pemikiran yang suka mengejek dan menjelekkan orang lain. Merasa kelompoknya sendiri yang paling benar, sementara kelompok lain salah.

Menghadapi kondisi, itu politisi asal Jawa Timur meminta seluruh anggota Ansor tetap tenang. Bahkan, kalau bisa ikut memperbaikinya. Agar kekerasan dan pikiran keras terhadap negara, bisa berangsur berkurang.