Jarak Rumah Tak Sesuai, Puluhan Wali Murid PPDB SMPN Serbu Kantor Disdik Kota Malang

Para lulusan SD saat mendaftar PPDB SMPN di Kota Malang

KOTA MALANG – Rabu pagi tadi (22/5) puluhan wali murid pendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPN menyerbu Aula Dinas Pendidikan Kota Malang. Mereka mempertanyakan kenapa jarak rumah yang diinput tidak sesuai dengan ekspetasi yang asli.

Rupiatin misalnya, warga Jalan Mayjen Sungkono Gang VI mengatakan bahwa jarak rumahnya dengan SMPN 10 Malang terhitung di sistem lebih dari 3 ribu meter. Padahal jika dilihat dari google maps seharusnya jarak sebenarnya hanya 900 meter-an.

Ibunda Ferlita Amelia Putri ini mengatakan bahwa anaknya yang berasal dari SDN Bumiayu 3 mendaftar ke zonasi SMPN 7, 10, dan 23 dengan pilihan pertama SMPN 10 Malang

“Saat ini anak saya terlempar dari SMPN 10 Malang yang jaraknya paling dekat dan terancam nggak dapat sekolah. Katanya zonasi, tapi kok nggak pasti gini. Dari kemarin saya coba tanya ke sekolah kok jaraknya jauh katanya suruh tanya dispendukcapil, dari sana disuruh ke disdik, kok dilempar-lempar,” keluhnya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM mengatakan bahwa apa yang dikeluhkan orangtua hari ini merupakan kesalahannya sendiri. Jika menulis form pendaftaran dengan alamat yang kurang lengkap, maka imbasnya memang kepada jarak rumah. Nama gang, nomor rumah menjadi penting dalam proses pengukuran jarak.



“Misalnya nih rumah di Mayjen Sungkono gang 5 nomor 7, itu ya harus di tulis lengkap sesuai KK (Kartu Keluarga). Bahkan digit RT RW yang 3 atau 2 digit bisa mempengaruhi, intinya harus sesuai dengan KK. Kalau sudah sesuai nanti keluar tuh datanya pasti tepat,” tegas dia.

Zubaidah menambahkan jika nantinya siswa yang diutamakan diterima adalah yang jaraknya terdekat dan menjadi pilihan utama.

“Sehingga ketika ada orangtua A jarak rumahnya semisal 500 meter jarak orangtua B 1 km, bisa jadi yang orangtua B ini yang diterima karena dia memilih pilihan pertama terdekat. Sedangkan yang orangtua A yang 500 meter bisa terbuang karena memilih sekolah pilihan kedua. Ini yang suka di protes,” papar dia.

Ia berharap kedepannya sistem zonasi dapat dipahami betul oleh orangtua. Alamat di KK menjadi acuan penting dan harus di tulis detail. Sebab tak lengkap setitik saja akan merubah jarak yang cukup jauh.

Pewarta: Rida Ayu
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Rida Ayu