Jantung Koroner Masih Mengganas

MALANG KOTA – Jantung koroner menjadi salah satu penyakit penyumbang angka kematian tertinggi di dunia. Itu karena penyakit tersebut sulit teridentifikasi. Apalagi, pola hidup masyarakat kerap tidak sehat, sehingga terus menambah jumlah penderita penyakit jantung koroner.

Manajer Pelayanan Rumah Sakit (RS) Hermina Tangkubanprahu Malang dr Gati Kusumo Budiani memaparkan beberapa pola hidup masyarakat yang bisa memicu jantung koroner. Di antaranya, mengonsumsi makanan tinggi lemak, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik.

”Juga, ada beberapa penyakit yang menjadi faktor berisiko terkena jantung koroner. Seperti obesitas, diabetes militus, dan hipertensi,” ujar Gati Jumat lalu (4/8).

Menurut Gati, lambatnya penanganan juga menjadi faktor pemicu bertambahnya jumlah penderita penyakit jantung koroner. Gati menyebutnya dengan istilah ”time is muscle”. Yakni, semakin lambat penanganan, semakin kecil peluang untuk sembuh. Sebab, kerusakan otot jantung semakin meluas.

Gati menyatakan, jantung koroner bisa dicegah dengan deteksi dini. Itu bisa dilakukan dengan medical checkup secara berkala. Tujuannya, untuk mengetahui kolesterol dan gula darah. Treadmill atau echocardiografi juga perlu dilakukan.

Saat ini, fasilitas tersebut telah tersedia di RS Hermina Tangkubanprahu Malang. Apalagi, per 1 Agustus lalu RS Hermina sudah menerima layanan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sehingga screaning ke arah jantung koroner lebih terfasilitasi.

Selain deteksi dini, penanganan dokter umum juga menentukan. Sebab, dokter umum melayani pasien di tingkat pertama. ”Harapan kami, (dokter umum) bisa membantu. Diagnosis lebih cepat dan akurat,” kata Gati.

Menurut Gati, dokter umum memiliki kompetensi untuk melakukan penatalaksanaan awal penanganan pasien penderita jantung koroner. ”Setelah kondisi pasien stabil, pasien bisa dirujuk ke pelayanan tingkat lanjutan,” katanya.

Pewarta: Fisca Tanjung
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Arief Rohman