Jangan Tertipu, Kenali Ciri Khas Matcha Alami

JawaPos.com – Bukan rahasia lagi jika matcha menjadi salah satu flavor andalan di bidang minuman. Sebab, hampir gerai minuman kekinian menyedia menu dengan rasa matcha. Tapi, yakinkah Anda kalau matcha yang diminum itu asli?

Berdasarkan tren penjualan minuman yang diperoleh Matchamu, matcha masih menempati top 5 hingga 10 minuman boba atau teh kekinian yang paling laris di pasaran. “Dari tahun 2013 memang tidak pernah surut dan sebenarnya minuman-minuman itu juga yang mempopulerkan matcha,” ujar Lintang Wuriantari selaku Tea Executive Officer Matchamu.

Sedangkan Ratna Somantri selaku Founder Indonesia Tea Institute mengungkapkan, popularitas matcha dipengaruhi rasanya yang khas. Meski sama-sama berasal dari daun teh, tapi matcha memiliki rasa yang kaya dan berbeda dari teh kebanyakan.

Namun, memang disayangkan, tingginya popularitas matcha memberikan tantangan tersendiri. Sebab, tak jarang ditemukan, matcha yang digunakan penjual bukanlah yang asli melainkan campuran.

“Yang pasti kalau harga minumannya hanya Rp 5 ribu itu bukan matcha karena prosesnya saja sangat panjang jadinya tidak murah,” ujar Ratna dalam talkshow Hari Matcha Nasional beberapa waktu lalu.

Untuk membedakan matcha asli atau bukan, caranya memang susah-susah mudah. Pertama, ungkap Ratna, matcha alami itu hijau dan warnanya tidak akan pecah kalau diberi air. Lalu kedua, matcha memiliki arom yang khas. Aromanya bukan hanya mengeluarkan wangi daun teh tapi juga ada creamy-nya.

“Lantas rasanya, matcha bukan hanya pahit tapi ada manis dan creamy-nya. Nah kalau matcha yang pahit sekali berarti itu bukan alami,” sambungnya.

Terakhir, matcha asli bisa dibedakan dari warnanya. Kalau kuning kecokelatan bisa dipastikan itu bukan matcha alami.

Di Jepang sendiri, matcha merupakan teh yang sering disajikan untuk kalangan kerajaan. Meski sama-sama berasal dari daun teh, namun matcha dipercaya memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi dari green tea. Sebab dari cara menanam hingga menyajikannya ke dalam segelas teh sudah berbeda.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah