MALANG – Teror 17 menit lewat video penembakan yang terjadi di Masjid bernama Al Noor di Linewood, Christchurch, daerah New Zealand atau Selandia Baru, Jumat, (15/3) siang tadi jelas disturbing dan berisi video eksplisit yang menunjukkan korban secara langsung.

Namun, sharing atau menyebar sebuah video yang diketahui bakal viral layaknya sudah jadi bagian budaya netizen kita saat ini. Mudahnya akses sosial media dan keinginan untuk menjadi nomor satu sebagai pengirim berita pertama kalinya jadi alasannya.

Namun, Psikolog justru menghimbau agar video berdurasi 17 yang sempat disiarkan langsung oleh pelaku saat penembakan sekitar waktu shalat Jumat, pukul 13.40 siang waktu setempat tidak disebar oleh netizen.

“Karena secara umum tanpa terkait identitas keagamaan, nanti akan terjadi vicarious experience,” ujar Pakar Psikolog sekaligus Dekan Fakultas Pskologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Salis Yuniardi, PhD.

Pasalnya, jika makin banyak masyarakat yang menonton video tersebut, maka akan makin banyak audiences yang terpapar ideologi yang coba ditanamkan pelaku.

“Melihat kekerasan seperti itu sedikit banyak akan memicu untuk meniru, terlebih bagi anak-anak dan remaja ataupun dewasa yang secara emosi belum matang,” tutup Salis.

Sementara itu, mengutip dari media asal Selandia Baru, nzherald.co.nz, Perdana Menteri Selandia Baru, Scott Morrison mengakui polisi Selandia Baru telah menangkap pelaku. Dia bernama Brenton Tarrant, orang kulit putih asal Australia berusia sekitar 28 tahun. Scott menyebut pelaku sebagai “An extremist, right-wing, violent terrorist”.

Pewarta: Elfran Vido
Penyunting : Kholid Amrullah