Jalani Latihan ”Kejam”, Dapat Lawan Tak Sepadan di Final

Teguh Dwiyono tidak pernah menyangka bakal menjadi juara di Full Contact Karate Championship 2019. Selain menjadi event pertama yang diikuti, dia juga kalah level dengan lawannya di babak final. Bagaimana akhirnya dia bisa meraih gelar juara?

Dua karateka itu terlihat tengah serius berlatih di dalam gedung KNPI, Kota Malang. Mereka adalah Teguh Dwiyono dan Mochammad Rendy Ramadhan, karateka dari Dojo (Perguruan) Karate Mushikawa, Kota Malang. Meski cuaca cukup panas, mereka  tetap bersemangat menjalani sparing ringan.

Meski latihan ringan, tapi pukulan dan tendangan dua karateka ini terlihat cukup keras. Ya, mereka memang mengikuti aliran Karate Full Body Contact. Serangan dan pertahanan yang dilakukan pun harus optimal. Latihan diawasi oleh Iskanto, sang pelatih. Jadi, sparing tersebut tetap aman. Lagi pula, Rendy adalah masih juniornya Teguh.

Untuk latihan yang lebih serius, biasanya mereka berlatih di training center (TC) di Masjid Abu Dzar Al-Ghifari, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang. Di sini, ada banyak karateka yang ikut latihan. Jadi, mereka bisa mendapatkan lawan yang sepadan.

Teguh dan Rendy, dua di antara sekian banyak karateka andalan Dojo Mushikawa. Teguh sendiri baru meraih gelar juara di Full Contact Karate Championship 2019 pada 23 Februari lalu di JCC, Jakarta. Di kejuaraan nasional (kejurnas) yang diadakan Indonesia Full Contact Karate Association (IFKA) itu, dia turun di kelas 55–65 kilogram (kg). Teguh pun menjadi juara setelah mengalahkan empat lawannya. Di final, itu menjadi pertandingan terberatnya.

”Dari empat pertandingan, babak final yang paling berat. Sebab, tipikal lawan main santai, dia juga sudah sabuk hitam, sudah senpai (senior),” kata dia di sela-sela latihan. Dia menjelaskan, dalam karate ada beberapa tingkatan. Untuk terendah adalah sabuk warna putih, kuning, hijau, biru, cokelat, dan hitam. Untuk hitam, ada beberapa tingkatan lagi. Teguh sendiri saat ini baru mendapatkan sabuk hijau.

Meski mendapatkan lawan yang tidak sepadan, semangat Teguh tak kendor. ”Di pertarungan final itu, saya yakin waktunya akan lebih panjang. Alhamdulillah, selesai satu ronde,” ungkap mahasiswa semester VI Jurusan Teknik Mesik Politeknik Negeri Malang (Polinema) itu.

Padahal, ini adalah kejuaraan karate perdana yang pernah diikuti Teguh. Bisa langsung mendapatkan gelar juara tentu saja membuatnya senang dan bangga. Namun, selama ini perjuangan dalam latihan memang tidak ringan. Meski dia hanya punya waktu persiapan kurang dari satu bulan. ”Sebenarnya Teguh ini adalah pengganti, atlet yang saya persiapkan sebelumnya batal. Jadi, dia (Teguh) yang maju,” kata Iskanto menimpali.

Karena itu, lanjut dia, persiapan yang dilakukan Teguh mepet. Sekitar Januari, mulai latihan lagi. Itu pun tanpa pengawasan pelatih karena Teguh berada di Banyuwangi. ”Dia saya berikan program agar latihan sendiri di rumah. Tapi tidak tahu, latihan benar atau tidak di Banyuwangi,” kata dia lantas tertawa.

Setelah di Malang, Iskanto menggenjot siswanya itu. Latihan yang keras dilakukan. ”Kalau di Malang latihannya harus kejam,” lanjutnya. Terutama untuk menguatkan fisik. Butuh latihan ekstra agar fisik para karateka prima saat menyambut pertandingan. ”Mereka pun saya ajak ke Kota Batu. Tapi, harus berlari di medan tanjakan dari Djunggo (Desa Tulungrejo) menuju Cangar (Desa Sumberbrantas),” kata Iskanto.

Jaraknya sekitar 11 kilometer (km) dengan medan yang full menanjak. Di lain hari, para karateka itu juga diajak lari keliling Malang. ”Pernah dari Kota Malang menuju daerah Karangploso (Kabupaten Malang), kalau ini medannya tidak menanjak, tapi lebih jauh,” imbuh dia.

Dengan lari di berbagai medan dan jarak itu, para atletnya juga punya fisik yang unggul. Belum lagi ditambah di arena latihan yang tak kalah keras. Para karateka itu pun siap untuk bertarung kapan pun.

”Ya, kalau di sini latihan ekstrem,” kata Teguh kembali, sambil tertawa. Namun, dia sadar karena latihan itu yang akhirnya mengantarkannya meraih juara. Selama ini, Teguh memang tidak pernah mengikuti kejuaraan.

Bisa dibilang, dia juga masuk belum lama bergabung dengan Karate Full Body Contact di Dojo Mushikawa. Tepatnya baru sekitar dua tahun. ”Sejak sekolah, saya ikutnya di silat, tapi dimarahi Ayah saya terus,” ungkap pemuda kelahiran 15 November 1998 itu polos.

Namun, dia tetap nekat mencuri waktu untuk bisa latihan silat. Kesenangannya terhadap olahraga bela diri itu berlanjut saat menjadi mahasiswa Polinema. ”Saat kuliah saya baru ikut karate,” ungkap putra pasangan Sunarto dan Rina Satmawati itu.

Meski digembleng cukup keras, namun Teguh merasa senang dan tertantang. ”Saya feel-nya memang di latihan full contact. Dan senangnya, karena ini adalah latihan yang bisa digunakan untuk membela diri,” pungkasnya.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Darmono