Jalan-Jalan di Tengah Hutan Mangrove, Berminat?

SUMAWE – Wisata menyusuri gua mungkin sudah cukup familier bagi Anda. Tapi, kalau wisata menyusuri hutan mangrove bisa jadi masih asing di telinga Anda. Konsep wisata itulah yang kini tengah dimatangkan pengelola Clungup Mangrove Conservation (CMC). Lokasinya di Pantai Kondang Buntung yang terletak berdekatan dengan Pantai Sendangbiru.

Kawasan tersebut sehari-hari dimanfaatkan warga sekitar untuk menjangkau Pantai Sendangbiru dan Tiga Warna. Rapatnya tanaman mangrove yang mengelilingi kawasan itu membuat kondisi air di sana terlihat hijau dari kejauhan, tapi sangat jernih saat dilihat dari jarak dekat. Kamis lalu (22/3), Jawa Pos Radar Kanjuruhan berkesempatan menyusuri kawasan tersebut bersama crew CMC Tiga Warna Eko Browi Untoro.

Dari pemaparan Browi diketahui ada delapan jenis mangrove yang terdapat di seluruh kawasan konservasi tersebut. Di antaranya, bernama lain Lumnitzera racemosa, Bruguiera, Avicennia alba, Sonneratia alba, Rhizopora mucronata, dan Rizhophora apiculata.

”Ada juga dari jenis Mentigi, Ceriops tagal, dan Xylocarpus granatum,” kata Browi. Sembilan macam varietas tanaman mangrove tersebut berada di kawasan dengan total luas 81 hektare.

Di tengah perjalanan menyusuri hutan mangrove dengan perahu, Anda bisa melihat salah satu bekas bangunan jembatan yang kondisinya sudah rusak.

”Kalau dulu jembatan ini dipakai masyarakat untuk menyeberang, tapi kalau sekarang fungsinya lebih digunakan sebagai pembatas agar kapal-kapal nelayan tidak sampai masuk ke area ini,” terang Browi.

Jembatan itulah yang bakal disiapkan bagi para pengunjung. Akses setapak khusus bakal dibuat di sana.

Konsep khusus untuk wisata di sana sudah disiapkan. Browi menyebut konsep eco fishing port. Dalam penerapannya, pengunjung juga bakal diajak untuk menjaga kelestarian hutan mangrove yang disebutnya sebagai tempat keseimbangan ekosistem laut.

”Semoga ada pihak yang turut membantu kelancaran pembangunan itu nanti, jadi konsep yang sudah kami siapkan bisa segera terealisasikan juga,” tutupnya.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Bayu Mulya
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono