Jadi Spot Swafoto, Usung Tema Wayang Sebagai Identitas Kota Budaya

Overpass Manahan sudah rampung dikerjakan. Kemarin (17/12), Dinas Perhubungan (Dishub) Solo juga sudah melakukan uji coba. Overpass ini menyedot perhatian masyarakat karena keberadaan mural di sepanjang dindingnya.

Ari Purnomo, Solo

Seorang pengendara motor melintas di bawah Overpass Manahan dengan latar belakang mural bergambar kuda. Rencananya, pengerjaan mural tersebut akan tuntas 20 Desember nanti. (Ari Purnomo/ JawaPos.com)

Kota Solo sepertinya akan memiliki banyak spot baru untuk berswafoto. Mulai dari jembatan Tirtonadi, Taman Bengawan Solo dan yang terbaru adalah overpass Manahan. Jalan layang itu dipercantik dengan aneka mural berukuran raksasa.



Mulai dari sisi selatan, utara, barat, dan juga di sisi timur. Total panjang jalan layang yakni 2,5 km. Di temboknya, goresan mural tak hanya menjadi sekadar pelengkeap estetika. Lebih dari itu, mural yang ada di sana memiliki makna.

Temanya adalah pewayangan Ramayana. Ada mural Rama, Shinta, Rahwana dan juga Hanoman. Gambar mural tersebut adalah karya belasan seniman mural Solo.

Mural ini sudah dikerjakan sejak beberapa waktu yang lalu. Tepatnya pada 5 November. Proses pengerjaannya ditargetkan akan rampung pada 20 Desember. Alias sehari sebelum jalan layang itu diresmikan dan dibuka untuk umum.

Pengerjaanya siang dan malam hari. Meski belum rampung sepenuhnya, mural di overpass sudah menyedot perhatian warga.

Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang berswafoto di lokasi tersebut. Biasanya, warga datang pada sore hari. Kemudian mereka berswafoto dan mengunggahnya ke media sosial.

Koordinator seniman mural yang menggarap overpass Manahan, Irul Hidayat mengungkapkan, mural ini dikerjakan oleh belasan seniman mural Solo. Bahan yang digunakan antara lain cat galon dan semprot.”Untuk cat galon sebanyak 200an galon dengan ukuran 5 kg. Sedangkan untuk cat semprot menghabiskan 300an kaleng,” urainya kepada JawaPos.com, Selasa (18/12).

Irul menambahkan, seni mural yang menghias di tembok overpass adalah untuk memperindah dan juga untuk mengantisipasi adanya vandalisme. Dengan adanya mural, maka jalan layang bisa juga menjadi ikon wisata baru dan menjadi spot swafoto. “Dengan adanya mural ini kan memiliki nilai estetik. Selain itu juga tidak membosankan dan menarik perhatian masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo mengungkapkan, mural ini salah satunya untuk memberikan ruang bagi para pelaku vandalime. Dengan adanya ruang, maka vandalisme di Solo bisa dihilangkan. “Kalau sampai sudah ada mural seperti ini tetap dicorat-coret jelas akan langsung kami tindak tegas. Paling tidak kami jerat dengan tipiring,” tegas Rudy.

Mengenai tema mural, Pemkot Solo sengaja menghadirkan wayang untuk memperkuat Kota Solo sebagai kota budaya. Selain itu, belum lama ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga baru saja menetapkan Hari Wayang. “Ini untuk promosi, kalau temanya kami mengambil visi dari budaya itu. Selain wayang nanti juga ada gambar mbah Gesang sedang naik perahu yang berisi dengan para atlet, ini menggambarkan semangat olahraga Manahan,” tandasnya.

(apl/JPC)