Jadi ”Mata-Mata” 100 Sekolah, Didanai Kemenristekdikti

Anak Anda sering bolos sekolah? Atau kerap menggelapkan uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk jajan? Itu bisa diatasi dengan Edupongo.

Melalui aplikasi mobile berbasis Android ini, orang tua bisa mengecek perilaku anaknya di sekolah. Bagaimana caranya?

ARIS DWI KUNCORO

BELASAN pemuda itu tampak serius. Pandangan mata mereka hanya tertuju pada layar laptop di meja masing-masing. Tidak banyak bercakap.

Hanya jari-jari mereka yang sibuk menari di atas keyboard. Itulah suasana keseharian di Inagata Software Development, Perumahan Griya Shanta Blok L Nomor 110, Kota Malang.



Dari situlah aplikasi Edupongo berhasil diciptakan. Ada filosofi di balik pemilihan nama Edupongo. Edu diambil dari kata edukasi atau pendidikan.

Sedangkan Pongo dari nama latin orang utan. Selain endemik Indonesia, orang utan merupakan hewan yang menjaga anak turunannya sampai dewasa.

”Jadi, dulu ada kendala. Orang tua tidak bisa memantau anaknya secara berkelanjutan di sekolah. Dengan Edupongo, sekarang menjadi mudah,” ujar Bagus Suryawan, Co-Founder Inagata, perusahaan yang memproduksi Edupongo, ketika ditemui kemarin (12/7).

Founder sekaligus CEO Inagata M. Miftahul Huda yang berkumpul bersama Bagus dan beberapa teman lainnya menambahkan, Edupongo mulai digarap pada 2016.

Proses pengembangan aplikasi ini tidak singkat. Sebab, butuh riset yang mendalam tentang permasalahan di sekolah. Mulai 2016–2017.

”Bermula dari riset kami dan saat itu kebetulan ada project dengan SMA Lab, ini yang menginisiasi,” kata dia.

Berdasarkan risetnya, ada masalah serius yang dihadapi sekolah dan para orang tua siswa.

Apalagi komunikasi orang tua siswa dengan pihak sekolah tidak intens sehingga kerap memicu kesalahpahaman.

Seperti orang tua kesulitan memantau anaknya, apakah masuk sekolah atau tidak.

Apakah uang SPP yang diberikan orang tua sudah dibayarkan atau tidak. Atau justru digunakan untuk mentraktir teman-temannya.

”Nah, kami coba cari solusinya,” lanjut pria yang akrab disapa Mifta tersebut.

Dari permasalahan itu, mulai digarap sebuah aplikasi Edupongo. Tujuannya, untuk menjembatani antara orang tua, guru/wali kelas, dan sekolah.

”Kami buat sistem yang terpusat. Sekolah yang mengelola, tapi orang tua siswa bisa mengakses lewat aplikasi mobile,” kata alumnus Teknik Informatika Universitas Islam Negeri (UIN) Malang itu.

Namun, tidak mudah membuat aplikasi ini. Sebab, selama ini setiap sekolah punya unit berbeda-beda.

”Kami mewadahi keunikan sekolah. Aplikasi tidak saklek bisa menyesuaikan keinginan sekolah,” kata dia.

Proses penyesuaian dengan keinginan masing-masing sekolah itu yang menjadi tantangan. ”Karena sistem ini berkembang,” kata pria kelahiran Rembang, 8 Mei 1991, itu.

Wartawan koran ini melihat langsung cara kerja aplikasi tersebut. Baik di website maupun aplikasi mobile (handphone) berbasis Android ataupun iOS. Keduanya mempunyai tampilan yang simpel dan mudah digunakan.

Fitur yang muncul di aplikasi tersebut adalah presensi siswa, rapor, live chat, pembayaran, pengumuman, profil setiap siswa dan sekolah.

”Dengan aplikasi ini, orang tua bisa tahu kehadiran anaknya, pembayaran, adanya kegiatan di sekolah, dan lain-lainnya,” timpal Bagus.

Untuk presensi dilihat fitur real time. ”Kalau absennya menggunakan finger, anaknya mengalami keterlambatan berapa menit, juga bisa diketahui langsung oleh orang tua siswa,” kata dia.

Ada notifikasi yang langsung dihubungkan ke handphone orang tua siswa. ”Nilai juga bisa dilihat. Nanti ada rapor dan itu bisa di-download,” lanjut alumnus Teknik Fisika Universitas Brawijaya (UB) itu.

Selain berisi catatan kelakuan siswa, juga menampung informasi dari sekolah. Misalnya pengumuman pulang cepat dari pihak sekolah, langsung ada notifikasi ke HP setiap orang tua siswa yang men-download aplikasi tesebut.

Bagi orang tua siswa yang ingin bertanya tentang pembayaran melalui live chat ke pihak keuangan sekolah, atau mau tanya kemampuan siswa bisa live chat wali kelas juga dilayani. ”Selama ini yang banyak tidak terpusat. Nah, ini menjadi satu portal,” kata Bagus.

Berkat kecanggihan karya anak-anak Malang ini, kini aplikasi tersebut tidak hanya dinikmati segelintir sekolah.

”Sudah ada lebih dari 100 sekolah di Indonesia, paling banyak di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan,” kata dia.

Aplikasi Edupongo ini mendapatkan sambutan positif dari orang tua siswa di sejumlah SMA di Jombang. Misalnya SMA Abdul Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang, dan MAN 3 Jombang.

”Di sana (Jombang) orang tua siswa kan banyak dari luar daerah. Jadi, dengan aplikasi ini bisa memantau perkembangan pendidikan anak mereka secara langsung,” terang dia.

Tidak hanya itu, aplikasi Edupongo juga masuk dalam Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) RI. Tidak mudah untuk bisa lolos PPBT. ”Persaingannya ada ribuan start-up di Indonesia,” ujar Bagus.

Dan yang lolos sekitar 299 peserta. Setelah lolos, Edupongo mendapatkan pendanaan inkubasi agar berkembang dan bersaing di pasar global.

Untuk terus mengembangkannya, Edupongo mengikuti lembaga inkubator PENS Sky Venture di bawah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan