Jadi ”Lurah” di Australia, Bantu Mahasiswa Adaptasi hingga Kesulitan Keuangan

Melanjutkan studi ke luar negeri adalah impian banyak orang. Namun bayang- bayang biaya mahal, kemampuan bahasa Inggris kurang, bingung memilih sekolah atau kampus yang dituju membuat sebagian orang ciut nyali. Di titik inilah, Prof Loekito Adi Soehono hadir dan membantu mereka yang ingin studying abroad (belajar di luar negeri).

HAPPY ROIKHAN

Usianya memang sudah 72 tahun. Namun, aktivitas sosok yang satu ini tak kalah dengan mereka yang masuk usia produktif. Setelah pensiun sebagai dosen Universitas Brawijaya, Prof Loekito Adi Soehono tetap energik dalam berkiprah. Lewat Loekito Education Group, International Education Consultant, dia aktif membantu siapa saja yang ingin studi ke luar negeri.

”Cita-cita saya dulu memang bisa studi ke luar negeri. Puji Tuhan, keinginan itu terkabulkan,” ucap Loekito membuka obrolan dengan Jawa Pos Radar Malang Jumat lalu (6/9).

Ditemani sang istri, Fieniastuty Soehono, Loekito menunjukkan keramahannya. Cara melayaninya pas dengan bidang yang ditekuni, yakni jasa layanan di bidang pendidikan ke luar negeri. Bahkan, sudah 28 tahun ini dia menggelutinya.

”Sistem kerjanya beda dengan agency ya. Sebab, saya tidak menarik biaya dari peserta (peminat belajar ke luar negeri, Red) secara langsung. Saya kerja sama dengan universitas di berbagai negara. Lembaga-lembaga tersebut yang mengapresiasi saya,” ucap Loekito yang ketika itu mengenakan atasan batik motif warna emas dipadu celana hitam.

Berbincang di teras rumah bagian belakang yang sekaligus menjadi kantor Loekito Education Group di Jl Galunggung 39, ayah dua anak ini lantas menceritakan perjuangannya dulu saat merintis jalur pendidikan Indonesia–Australia.

Mengapa Australia? Loekito mengatakan, semuanya berawal dari pengalamannya yang berkesempatan studi S-2 dan S-3 di University of Sydney, Australia. Selama masa studi tersebut, Loekito tak cuma mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kuliah saja.

Lebih dari itu, dia juga bersemangat belajar tentang sistem pendidikan maupun kebudayaan Australia. Berkat pengalaman tersebut, dia lantas tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang jalur pendidikan ke Australia.

Jenjang pendidikan S-1 Loekito sendiri diselesaikan di jurusan pertanian UB yang sekaligus menjadi tempatnya mengabdi, yakni sebagai dosen PNS mulai 1974 silam. Posisinya sebagai dosen tersebut membuka peluang Loekito melanjutkan studi ke luar negeri dengan beasiswa dari Kementerian Pendidikan.

”Selama saya di Australia, saya selalu dijadikan semacam ’Pak Lurah’.  Karena membantu mengurus keperluan A–Z teman-teman yang sama-sama studi di Australia,” ungkapnya.

Jasa layanan tersebut dia buka secara cuma-cuma. Mulai mahasiswa yang sedang menjalani proses adaptasi hidup pertama di sana sampai yang kesulitan keuangan. Peran membantu tersebut dia jalani dengan senang hati. Motivasinya sederhana, karena dia dulu juga pernah merasakan hal yang sama sebagai mahasiswa internasional yang baru kali pertama kuliah di luar negeri.

”Saya tahu betul bagaimana rasanya,” kenangnya lantas tersenyum. Karena dengan keterbatasan fasilitas maupun kenalan di negeri orang, sekecil apa pun bantuan saat menghadapi kesulitan atau masalah, tentu akan sangat membantu.

”Tinggal di negara asing minim kenalan, yang dicari tentu sesama teman dari negara asal. Dan saya dengan senang hati mau membantu,” katanya.

Perjalanan menempuh studi S-2 ke S-3 tidak dijalani Loekito secara otomatis langsung berlanjut. Selepas merampungkan gelar master bidang biometrika tahun 1978, Loekito harus kembali ke Indonesia terlebih dulu. Namun, reputasi Loekito yang sering menjadi jujukan mahasiswa Indonesia cukup menjadi catatan Pemerintah Australia.

Untuk itu, dia dijadikan salah satu contact person dari kedutaan Australia. Maka ketika International Education Specialist (IDP) East Java pertama mendirikan perwakilan di Malang, Loekito ditunjuk sebagai liaison officer.

Ketika itu masih fokus ke Australia saja. ”Ya, membanggakan sekali. Karena tidak gampang untuk mendapatkan kepercayaan tersebut. Syarat utama tentu kemampuan bahasa Inggris,” terang pria yang menjadikan Australia sebagai rumah keduanya tersebut.

Tugasnya di IDP adalah bagaimana memfasilitasi warga Indonesia berminat menempuh studi ke Australia. Mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi berbagai strata. Tentu bukan hal mudah. Bahkan tidak semudah era sekarang ini. Menarik minat masyarakat bisa dibantu dengan kecanggihan IT. ”Dulu, ada orang tua telepon ke kantor menyampaikan kalau ingin menyekolahkan anaknya ke Australia, ya langsung saya datangi ke rumahnya,” ucapnya.

Ketekunan itu pun terkadang membuahkan hasil. Terkadang juga gagal untuk mengajak calon siswa atau mahasiswa studi ke Australia. Namun, Loekito tak pernah menyerah karena apa pun studi ke luar negeri itu menjadi kebanggaan tersendiri.

Hingga akhirnya Loekito kemudian kembali ditugaskan untuk melanjutkan studi S-3 di bidang statistika-biometrik pada 1986, di universitas yang sama: University of Sydney.

Selama menjalani studinya S-3, Loekito kian dipercaya IDP dalam menjalankan program orientasi bagi mahasiswa baru, mulai dari menjemput para mahasiswa baru sampai membuatkan rekening di Australia. Atas peran aktifnya tersebut, Loekito ditunjuk IDP membantu perekrutan mahasiswa asal Indonesia yang akan melanjutkan studi ke Australia.

Pada 1991 silam, IDP Indonesia mengangkat Loekito sebagai Principal Associate di Indonesia. ”Saya juga mendirikan Azet Language Centre untuk membantu persiapan bahasa Inggris para siswa yang akan melanjutkan studi ke Australia ketika itu,” katanya.

Ruang gerak Loekito untuk menyeriusi layanan studi ke luar negeri makin terbuka lebar. Itu karena di kampus tempatnya mengajar, Loekito menjabat sebagai koordinator kerja sama antara Universitas Brawijaya (UB) dengan universitas-universitas di Australia.

Bahkan, dia diberi keleluasaan dari UB untuk membuat program double degree (gelar ganda) dengan masa kuliah yang telah ditentukan. Berapa lama di UB dan berapa lama di kampus luar negeri. Selain itu, juga Loekito bisa membuat peluang kursus singkat, baik untuk umum maupun instansi sesuai permintaan pasar.

”Sudah ribuan mahasiswa yang saya bantu untuk studi ke luar negeri selama saya bergerak di bidang layanan pendidikan ini. Ya ke berbagai negara,” kata ayah dari Aditya Soehono dan Natalia Soehono tersebut.

Layanan pendidikan ke berbagai negara itu dilayani Loekito setelah IDP East Java bertransformasi menjadi Loekito Education Group. Perubahan ini justru menjadi permintaan pasar agar tidak hanya memproses permintaan studi dengan destinasi Australia, tapi juga negara lain.

Seperti Inggris, Selandia Baru, Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan. Pelayanan studi mulai jenjang SD–S-3, baik pendidikan formal maupun nonformal (training-training).

Walaupun begitu, Australia tetap menjadi destinasi favorit untuk studi ke luar negeri. ”Ada ketertarikan masyarakat memilih studi ke Australia karena cukup dekat dengan Indonesia. Paling penting juga, Australia adalah negara multikultur. Dan Australia sudah diakui kualitas pendidikannya,” terang Loekito.

Lembaga yang didirikan itu pun telah dipercaya masyarakat. Dibuktikan dengan meningkatnya jumlah peminat yang diproses keberangkatannya dari tahun ke tahun. ”Tiga tahun terakhir tren kami selalu naik, ada peningkatan 10 persen. Tahun ini mudah-mudahan lebih dari 150-an orang berangkat studi ke berbagai negara, kebanyakan jenjang  perguruan, mulai S-1 sampai S-3,” terangnya.

Karena masih banyaknya peminat ke Australia, Loekito pun menginjakkan kaki di negara Kanguru ini bisa dua sampai tiga kali dalam setahun. Di Australia, Loekito memiliki jaringan cukup kuat. Bahkan, dia mendirikan semacam perkumpulan khusus yang beranggotakan warga negara Indonesia yang studi di Australia.

Setiap kali datang, dia mengumpulkan mereka meski untuk sekadar makan-makan atau ngobrol ringan. ”Ke Australia selain menengok anak saya yang bekerja di sana, juga ada keperluan lain soal studi klien. Kolega saya kalau menyebut saya ke Australia seperti ke Pasar Bareng,” ujarnya lantas tertawa.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani