Jadi Korban Tsunami, Anton: Ya Allah, Jangan Ambil Anak Saya

JawaPos.com – Tangis Anton, 40, pecah. Ia histeris melihat Fatma, buah hatinya berada di kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Bob Bazar, Senin pagi (24/12).

”Ya Allah. Jangan ambil anak saya. Jangan,” kata Anton yang histeris melihat Fatma, 11 bulan, terbujur kaku, Senin (24/12).

Jarum infus terlihat masih terpasang di tangan kanan lelaki asal Desa Waymuli Timur, Kecamatan Rajabasa, tersebut. Ia bersama keluarga menjadi korban dahsyatnya gelombang tsunami yang menghantam Selat Sunda, pada Minggu (23/12) kemarin. Beberapa daerah yang diterjang tsunami seperti Pendeglang dan Lampung Selatan.

Anton histeris melihat jenazah putrinya yang terbujur kaku (Veridial/Radarlampung.co.id)


Anton mengatakan, sebelum tsunami, Fatma dan kakaknya Anisa, 17, sedang tidur di kamar. Ombak datang. Kedua anaknya terpental dihantam gelombang. Anisa selamat. Sementara jasad sang adik baru ditemukan Senin pagi (24/12).

Anisa sempat tidak sadarkan diri. Ia membenarkan jasad yang ada di kamar jenazah tersebut adalah adiknya. ”Adik saya. Adik saya. Dia terpisah dengan saya pas ombak datang. Ya Allah,” Anisa berurai air mata.

Hingga saat ini, 32 jenazah korban tsunami sudah masuk ke posko Ante Mortem RSUD dr. Bob Bazar Kalianda. Dari jumlah tersebut 15 di antaranya sudah dikonfirmasi oleh pihak keluarga.

Direktur Utama RSUD dr. Bob Bazar, dr. Diah Anjarini mengatakan, 15 jenazah sudah diambil pihak keluarga. Sementara sisanya menunggu konfirmasi.

”Kemarin (Minggu, Red) 19 jenazah. Pagi ini 12 jenazah. Jadi ada 32 jenazah yang masuk ke RSUD dr. Bob Bazar. Belasan jenazah sudah dipulangkan ke keluarga masing-masing,” sebutnya.

(jpg/ona/JPC)