Jadi Komut Pertamina, Pengamat Sebut Ahok Bisa Berikan Kinerja Bagus

JawaPos.com – Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok resmi ditunjuk sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Tohir. Namun, ditengah defisitnya neraca dagang migas Indonesia hingga September ini, pastinya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan berkata bahwa cocok atau tidaknya Ahok menempati posisi tersebut, yakni berdasarkan keputusan pemerintah. Namun, jika berbicara soal pendidikan, ia merasa bahwa Ahok dapat mengatasi permasalahan internal Pertamina.

“Saya melihat dia kan pendidikannya di geologi lebih spesiiknya di bidang pertambangan juga, jadi saya kira dengan background yang dia miliki, dia tidak terlalu sulit untuk memahami Pertamina lah ya,” terangnya kepada JawaPos.com, Sabtu (23/11).

Dengan jabatan itu, dia diharapkan dapat memberikan terobosan baru sehingga bisa menjadi tangan kanan pemerintah dalam melaksanakan pengawasan terhadap jajaran direksi perusahaan BUMN tersebut.

“Mulai dari masalah kilang, RDMP (Refinery Development Masterplan Program), NGRR (New Grass Root Refinery) terus juga masalah current account defisit (defisit neraca dagang) kita, ini mungkin menjadi salah satu tugas utama yang diberikan oleh pak Jokowi kepada Ahok,” tambah dia.

Selain itu, ia juga diharapkan bisa menjadi batu loncatan sendiri bagi Pertamina untuk kegiatan lifting dan eksplorasi migas. Tapi, sebelum hal itu terjadi, Ahok diminta untuk bisa melakukan komunikasi yang baik dengan pihak internal serta eksternal.

“Saya kira itu jadi salah satu yang harus dibenahi nanti oleh Ahok terkait gaya bicara komunikasinya dia terhadap anak buah, jadi bisa menjadi smooth lagi (kinerja Ahok),” tutup dia.

Seperti diketahui, hingga September 2019, impor migas secara nasional tahun ini mencapai USD 15,86 miliar. Di sisi lain, nilai ekspor hanya USD 9,42 miliar. Akibatnya, terjadi defisit neraca migas hingga USD 6,44 miliar.