Jadi Guru, Para Bos pun Sempat Grogi

MALANG KOTA – Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin (2/5) bisa menjadi momen tidak terlupakan bagi 16 bos di Malang Raya. Ini setelah acara bertajuk Para Bos BUMN-BUMD Mengajar yang digelar Jawa Pos Radar Malang sukses luar biasa digelar di 16 sekolah berbeda.

Wajah-wajah semringah begitu terlihat saat 16 bos tersebut berkumpul untuk beramah tamah di Hotel Aria Gajayana, Kota Malang, usai mengajar. Sebelumnya, kurang lebih 1,5 jam hingga dua jam para bos tersebut mengajar dan memberi inspirasi di berbagai sekolah. Tak hanya siswa yang terkesan, tapi juga para bos tersebut merasa berhasil menularkan cerita sukses mereka masing-masing.

Kesan begitu berharga tersebut seperti yang dialami Area Head PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Malang Theresia Pratiwi Hastari. Dia terkesan karena setibanya di SMAK Santa Maria Malang, tempatnya mengajar, dia langsung didapuk sebagai pembina upacara.

”Itu yang surprise dan yang sempat bikin grogi,” kata Theresia yang disambut tawa hadirin lain.

Menjadi pembina upacara oleh Theresia bisa diselesaikan dengan baik. Begitu juga saat mengajar, dia lancar menyampaikan materi. Hal ini karena Theresia mempersiapkannya dengan matang. Lantaran, malam harinya dia ”presentasi” dulu ke anaknya yang juga sudah SMA.



”Saya verifikasi dulu, kalau saya sampaikan seperti ini apa cocok, anak saya bilang, iya cocok dan saya bisa mengerti kok,” imbuhnya lantas terkekeh.

Dia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Jawa Pos Radar Malang yang sudah menggelar acara tak biasa ini. ”Yang bikin happening itu adalah kami bisa sharing inspirasi, terima kasih Radar Malang dan para suster,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager Telkom Malang Juaksa Sinaga mengaku awalnya maju mundur alias grogi untuk mengikuti program ini. Mau tetap maju takut salah, mundur juga khawatir disalahkan. Sebab, dia harus berbicara di hadapan puluhan siswa kelas III sekolah dasar (SD).

”Saya takut ditanya, mau ngapain ini bapak,” kata Juaksa yang juga disambut tawa hadirin yang lain.

Untungnya, strateginya memutar video penuh inspirasi berhasil. Dia menyetel video yang isinya berupa motivasi agar tidak mudah menyerah. ”Tapi, tadi (kemarin) harus powerfull juga karena para siswa kelas tiga SD, totalnya ada 87,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Utama PD Jasa Yasa Ahmad Faiz Wildan menyatakan, acara kemarin sangatlah bagus untuk mengingat perjuangan para guru. Bahkan, Wildan sempat terharu karena ada seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) yang bertanya kepadanya.

”Dia bertanya, kalau ibu saya S-3 (strata 3), apakah saya juga harus S-3,” katanya bercerita penuh haru.

Sebagaimana mayoritas para bos yang mengajar, Wildan yang kebagian mengajar di SMP 2 Muhammadiyah harus berjuang keras. ”Harus teriak-teriak, kalau tidak teriak-teriak crowded banget,” pungkasnya.

Di sisi lain, saat mengajar suasana cair hampir terjadi di semua sekolah. Di SMPN 6 Kota Malang misalnya, Plh Area Manager Jatim PT Sarinah (Persero) Agus Sunaryo berhasil membuat suasana kelas cair. Suasana kian cair saat Agus membagi-bagikan empat hadiah boneka bagi yang bisa menjawab pertanyaannya.

Dalam paparannya kemarin, selain kiat sukses, Agus banyak menjelaskan tentang sejarah Sarinah. ”Sarinah adalah mal pertama kali di Indonesia yang ada eskalatornya,” katanya.

”Bahkan, dulu ada cerita kalau orang mau naik eskalator, sandalnya dicopot,” ucapnya disambut tawa para siswa.

Sementara itu, Andi Wiyono, branch manager BTN Cabang Malang, yang memberikan materi di hadapan para siswa MAN 2 Kota Malang, menceritakan banyak pengalamannya dalam belajar dan berkarir sebagai bankir.

”Yang dibutuhkan di dunia kerja itu adalah integritas, bukan hanya pandai,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad mengucapkan terima kasih kepada para bos yang bersedia mengajar. Dia berkeyakinan kalau momen kemarin bisa jadi momen yang dikenang para siswa. Apalagi, masa anak-anak adalah masa yang paling membekas jika mengalami peristiwa luar biasa.

”Jika anak-anak terinspirasi, maka akan memberi bekas di hati anak-anak kita,” katanya. ”Semoga juga ini bisa menjadi amal yang bisa kita bawa hingga mati,” pungkasnya.

Di akhir acara, 16 bos mendapatkan suvenir berupa foto saat mereka mengajar. Pihak sekolah juga mendapat suvenir yang sama.

Pewarta: Irham Thoriq
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono