Israel Takut Negaranya Dibanjiri Pengungsi Syria

Israel Takut Negaranya Dibanjiri Pengungsi Syria

JawaPos.com – Sumber militer Israel mengatakan, Israel mempersiapkan kemungkinan serangan gencar yang dilakukan pasukan Syria. Israel Defense Force (IDF) atau tentara Israel sedang bersiap untuk mencegah masuknya pengungsi Syria secara besar-besaran di perbatasan.

Selain meningkatkan penjagaan di perbatasan, Israel juga menyedikan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi Syria. Selama ini pasukan Syria telah menghantam bagian selatan Syria lebih dari sepekan melalui serangan udara, serangan roket, dan bom bdengan bantuan Rusia.

Serangan tersebut menyebabkan sebanyak lebih dari 50.000 orang terpaksa lari menyelamatkan diri. Israel takut mereka akn membanjiri negaranya.

Kamp pengungsi Syria di Israel (Times of Israel)

Banyak dari mereka yang telah melarikan diri ke perbatasan Israel. Hal tersebut dirasa menjadi hal yang paling aman dilakukan sebab rezim tidak akan berani menyerang di daerah itu untuk menghindari kemarahan Israel seperti dilansir The Times of Israel pada Kamis, (28/6).



PBB telah memperingatkan, terdapat lebih dari 750.000 nyawa di selatan beresiko terkena dampak serangan tersebut. Mereka berhak dilindungi dari gencatan senjata yang diberlakukan oleh Rusia, Yordania, dan Amerika Serikat (AS) tahun lalu.

Diketahui sebagian besar atau lebih dari 50.000 orang telah melarikan diri menuju perbatasan Yordania yang disegel. Para pejabat di Nawa yang merupakan kota yang dikuasai pemberontak yang dilanda serangan besar-besaran mengeluarkan pernyataan yang meminta Yordania untuk mengambil para pengungsi.

Yordania menyatakan, perbatasan akan tetap tertutup. Kerajaan telah menampung lebih dari 650.000 pengungsi Syria yang terdaftar dan diperkirakan jumlah sebenarnya mendekati 1,3 juta pengungsi.

Dengan tetap ditutupnya Yordania, Israel takut para pengungsi akan menuju ke perbatasan Israel. Sementara itu, hanya ada beberapa pengungsi yang mendirikan tenda-tenda di dekat perbatasan Israel di Quneitra pada Kamis, (28/6). Menurut sebuah sumber Israel sedang mempersiapkan berbagai skenario.

(trz/JPC)