IR Rais, Simbol Pahlawan Pelajar di Kota Pendidikan

Nama IR Rais begitu harum di Kota Malang. Karena itu namanya telah diabadikan sebagai salah satu nama jalan. Siapa dia sebenarnya?

Bila berkunjung ke Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Anda bisa melihat salah satu nama jalan, yakni IR Rais. Dua huruf di depan merupakan singkatan dari nama pahlawan pelajar yang gugur 30 Maret 1966 silam. Nama lengkapnya, Ikhwan Ridwan Rais. Tak banyak buku yang mengisahkan perjalanan Ikhwan.

”Seingat saya, namanya memang disebut dalam buku TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar),” terang sejarawan Kota Malang Dwi Cahyono.

Pasukan TRIP ini dalam sejumlah literatur yang ikut berjuang melawan agresi Belanda di Kota Malang. Dan IR Rais salah satu dari pejuang muda yang ikut menentang agresi itu. Itulah yang menjadi salah satu alasan namanya dikenang di Kota Malang sebagai nama jalan.

Dari pendalaman koran ini, diketahui sekelumit perjalanan pahlawan kelahiran 5 Agustus 1951 tersebut. Lahir di Teluk Betung, Lampung, dia sudah hijrah ke Jakarta sejak SMP.

Di ibu kota, dia tergabung dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Organisasi yang diikuti Ir Rais ini aktif turun ke jalan di tahun 1966. Menentang pemerintahan orde lama dan menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Aksi tersebut terkait dengan peristiwa setahun sebelumnya. Tepatnya, peristiwa gerakan 1 September 1965 atau disebut G 30 S PKI. Peristiwa tersebut menyulut aksi yang cukup masif. Puncak aksi terjadi setelah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) mengeluarkan tiga tuntutan rakyat atau yang diistilahkan dengan Tritura.



Tuntutan pertama berisi tentang seruan pembubaran PKI beserta organisasi kemasyarakatannya. Kedua, tuntutan perombakan kabinet dwikora dan yang terakhir tuntutan supaya harga sembako (sembilan bahan pokok) diturunkan. Organisasi PII yang diikuti IR Rais mulai aktif turun ke jalan sejak 10 Januari 1966. Seiring berjalannya waktu, dia juga mendaftarkan diri sebagai anggota Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Organisasi inilah yang kemudian berjuang melawan pemerintah dan yang telah membubarkan KAMI tanggal 24 Februari 1966.

Aksi pelajar dan mahasiswa pun makin masif setelah itu. Hingga ajal menjemput IR Rais tanggal 30 Maret 1966. ”IR Rais menjadi salah satu pelajar yang meninggal di tahun itu (1966),” sambung Dwi Cahyono.

IR Rais gugur terkena peluru nyasar di depan Hotel Indonesia (HI) Jakarta. Saat itu, ribuan aktivis KAMI dan KAPPI sedang berdemonstrasi memperjuangkan Tritura.

Peristiwa yang dikenal dengan sebutan Wisma Marta itu pun merenggut nyawanya yang kala itu masih berusia 15 tahun. ”Peristiwa itulah yang membuat namanya terdaftar sebagai pahlawan pelajar,” sambung pemilik rumah makan Inggil tersebut.

Bersama 11 mahasiswa dan pelajar yang meninggal di tahun yang sama, IR Rais akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Ketetapannya tercantum dalam TAP MPRS No. XXIX/MPRS/1966. Selain dia, ada nama lain seperti Arief Rachman Hakim, Zubaedah, Margono, dan Aris Munandar yang masuk dalam daftarnya. Ditunjuk sebagai nama jalan di Kota Malang, IR Rais juga dipergunakan untuk nama jalan di Ibu Kota Jakarta. Di Malang yang dikenal sebagai Kota Pendidikan, dia menjadi simbol pahlawan pelajar yang gugur di usia sangat muda.

Pewarta: Bayu Mulya
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Indah Setyowati