Intoleransi Hambat Indonesia Emas 2045

MALANG KOTA – Kasus intoleransi dan praktik ketidakadilan hukum menjadi pekerjaan rumah untuk mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045. Kedua faktor itu menjadi ancaman yang menghambat terwujudnya cita-cita Indonesia Emas, genap berumur 100 tahun.

Hal itulah yang diungkapkan Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Dr M. Mahfud MD saat menghadiri Dialog Kebangsaan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (9/4) kemarin. Sejumlah tokoh juga hadir sebagai pembicara dalam forum tersebut. Di antaranya Presdir PT Maspion Dr Alim Markus, Rektor UMM Dr Fauzan MPd, Dr Siti Ruhaini Dzhuhayatin MA, Savic Ali, Alissa Wahid, dan Inayah Wahid.

Mahfud menyatakan, generasi muda atau milenial harus membuang jauh ancaman intoleransi dan ketidakadilan tersebut. ”Kalau memang ingin mewujudkan cita-cita Indonesia Emas di tahun 2045, minimal, dua faktor itu dibuang dan jangan berkembang di negara ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ketika masyarakat diperlakukan tidak adil karena praktik disorientasi, hal itu akan memicu distrust atau ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. Sehingga, pada tingkatan berikutnya akan terjadi disobedience atau pembangkangan. ”Dari situlah, biasanya benih-benih negara hancur muncul. Karena salah satu permasalahan utamanya yaitu hukum, tidak ditegakkan dengan benar,” tegasnya.

Kemudian, dari masalah itu nantinya juga akan diiringi masalah intoleransi. Di mana, benih-benih perpecahan akan meluas jika ditambah kesadaran pentingnya pluralisme hilang. ”Makanya, kita berkumpul di sini untuk saling mengingatkan. Sekalinya kita terpecah karena intoleransi, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya sia-sia dan itu juga merugikan kita sendiri,” ujarnya.



Dia mencontohkan, banyak negara-negara yang sebelumnya pernah jaya dan besar tiba-tiba bubar sebelum genap berumur 100 tahun. Salah satunya Uni Soviet yang bubar saat umurnya menginjak 87 tahun.  Padahal, Uni Soviet sebelumnya pernah berjaya luar biasa dan merupakan salah satu negara hebat serta menakutkan di dunia. ”Kenapa mereka bubar? Ya, karena dua faktor tadi berkembang pesat di negara itu,” ucapnya saat ditemui di Aula Gedung Kuliah Bersama IV lantai 9 UMM.

Dengan begitu, mulai dari sekarang dirinya sangat berharap kepada masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial, untuk mewujudkannya. Pasalnya, di tangan kreatif-kreatif generasi muda Indonesia itu cita-cita tersebut bisa terwujud. ”Dalam artian, kita berbagi peran dan tugas sesuai bidangnya. Apalagi, masa depan Indonesia adalah milenial,” tuturnya.

Pewarta               : M.Badar Risqullah
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Ahmad Yani