Internal Gerindra Usung Dua Nama

KEPANJEN – Sejumlah partai politik (parpol) medioker mulai pasang kuda kuda menyambut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 di Kabupaten Malang. Jika sebelumnya dua partai besar, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bisa ongkangongkang karena punya modal 12 kursi
di parlemen, maka di tataran partai menengah tersebut, manuver koalisi menjadi senjata utama.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Chusni Mubarok menuturkan bila
pihaknya telah menyiapkan nama calon bupati maupun wakil bupati. ”Baik dari internal partai maupun dari tokoh di luar kami (partai) sudah kami petakan untuk posisi N1 (bupati) maupun N2 (wakil bupati),” kata dia.

Kepada Jawa Pos Radar Kanjuruhan, pria yang juga pengurus Dewan Pimpinan Pusat
Gerakan Pemuda Ansor itu menuturkan bahwa secara internal ada dua nama yang kini tengah digodok di tingkat DPC. Dari internal partai, secara gamblang Chusni menyebut bahwa dirinya dan Moreno Soeprapto adalah sosok yang akan diusulkan ke tingkat dewan
pimpinan daerah (DPD) dan dewan pimpinan pusat (DPP).

Namun, kepada siapa rekom tersebut akan berlabuh? Chusni menuturkanbahwa hal tersebut mengikuti dinamika politik dan peta koalisi yang akan terjadi ke depan. Soal arah koalisi, Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang Zia Ulhaq menyampaikan bahwa
sampai saat ini peta koalisi politik di Kabupaten Malang masih relatif cair.

”Dalam artian bukan berarti partai yang sudah punya modal, seperti PDIP dan PKB,
mutlak akan maju sendiri. Bisa jadi mereka akan mengajak Gerindra untuk berkoalisi,” katanya. Selama proses politik berjalan, mantan aktivis Malang Corruption Watch itu
menuturkan bahwa seluruh peluang tersebut masih terbuka lebar.

Zia menambahkan, ikatan di tingkat parlemen tidak bisa dijadikan acuan bagi partai
untuk melenggang dalam kontestasi politik. ”Misalkan Nasdem sekarang mengunci Partai Demokrat dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di parlemen, tapi itu bukan berarti
final. Politik itu kan dewan pimpinan pusat (DPP) yang menentukan.

Koalisi parlemen itu tidak mutlak, DPP masih menjadi keputusan yang paling tinggi dalam parpol,” beber Zia. Disinggung mengenai komunikasi politik dengan Partai Golongan Karya
(Golkar), Zia menyampaikan bahwa pihaknya telah beberapa kali bertemu dengan perwakilan pengurus maupun pimpinan partai berlambang pohon beringin tersebut.

”Kira-kira sudah empat kali perwakilan Partai Golkar berkomunikasi dengan kami, tapi
memang belum ada keputusan. Golkar sedang menjajaki kami dan begitu pun sebaliknya,” tambahnya. Lagi-lagi secara diplomatis Zia menuturkan bahwa kemungkinan koalisi Gerindra dengan Golkar maupun partai lainnya sama-sama terbuka lebar.

Sementara terkait dua figur internal Gerindra yang kini tengah diuji elektabilitasnya, mantan anggota Komisi I DPRD Kabupaten Malang itu menuturkan bahwa Moreno dan Chusni Mubarok sama-sama punya modal kuat. ”Moreno sudah jelas secara elektabilitas tinggi, dua kali lolos sebagai anggota DPR RI dari dapil Malang Raya.

Artinya, masyarakat Kabupaten Malang sudah banyak yang tahu,” kata Zia. Begitu pun sosok Chusni Mubarok. Zia menyebut bahwa Chusni punya modal sosial yang sangat mumpuni. ”Beliau punya modal sebagai caleg DPR RI, suaranya terbesar kedua setelah
Moreno.

Beliau juga ketua DPC Gerindra Kabupaten Malang yang secara otomatis punya kekuatan secara struktural di tingkat PAC maupun ranting, di samping juga menjadi pengurus Gerakan Pemuda Ansor Pusat,” jelasnya.

Lantas kapan kiranya Gerindra akanmendeklarasikan calon? Zia menuturkan bahwa Gerindra masih menanti giliran setelah Partai Golkar dan PDIP yang rencananya akan melakukan deklarasi Desember mendatang. ”Yang jelas mana peluang yang besar ya itu yang kami ambil,” tutupnya.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya