Inovasi Sekolah Makin Kompetitif

MALANG KOTA – Persaingan di ajang Green School Festival (GSF) tingkat sekolah menengah pertama (SMP) semakin ketat saja. Hal itu terlihat dari makin banyaknya sekolah yang menyajikan beragam terobosan yang tak hanya seputar isu ramah lingkungan semata. Beberapa sekolah juga mengusung isu inovasi dan teknologi.

Salah satunya inovasi yang dikembangkan SMPN 18 dan SMPN 13 Kota Malang tersaji saat tim juri GSF melakukan kunjungan kemarin (22/10). Kedua SMP tersebut bersaing dengan inovasi Bir Pletok dan Isotonik Alami.

Saat tim juri mendatangi SMPN 18 Kota Malang, mereka ”dicegat” 11 prajurit Eka Hasta yang membawakan tari penyambutan. Tak hanya itu, ada tujuh penari kuda lumping cantik dengan iringan musik gamelan juga memyambut kedatangan para juri.

Imam Tantowi, koordinator GSF SMPN 18 Kota Malang, menyatakan, salah satu keunggulan sekolah mereka adalah pengolahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal dan bir pletok. Untuk pengolahan IPAL, dia menerangkan air dari IPAL bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.

Dia menjelaskan, limbah yang dihasilkan di sekolahnya tak hanya melewati proses penyaringan dengan sistem IPAL semata. Airnya juga disaring kembali dalam tong pembersih.

Hal itu dilakukan karena terkadang penyaringan melalui IPAL belum sepenuhnya higienis. ”Jadi setelah disaring dengan IPAL, sebelum diangkat ke tong pembersih air masih disaring lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Henny Sri Astuti, guru prakarya, menambahkan terkait produk bir pletok. Dia menyebut minuman khas Betawi tersebut dikembangkan sendiri oleh siswa dengan wali murid.

Minuman tersebut terbuat dari campuran beberapa rempah, yaitu jahe, daun pandan wangi, dan serai. ”Memang namanya adalah bir pletok, namun minuman tersebut sama sekali tidak mengandung alkohol,” terangnya.

Henny juga menjelaskan bahwa inovasi bir pletok dikembangkan karena terdapat materi prakarya pengolahan rempah di sekolahnya. ”Selain itu, jahe dan serai merupakan tanaman toga yang banyak tumbuh di sekolah kami,” ungkapnya.

Sementara itu, saat tim juri mengunjungi SMPN 13, penyambutan yang dilakukan juga tak kalah heboh. Para murid membuat yel-yel seru dengan iringan musik perkusi. Selain itu, ada juga pertunjukan Tari Pohon Kehidupan oleh belasan gadis-gadis cantik yang memakai kebaya nuansa hijau dan oranye.

Tentang produk inovatif unggulan di SMPN 13, siswa menunjukkan minuman isotonik alami. Cantika Candra, siswa SMPN 13, menjelaskan, minuman isotonik alami tersebut dikembangkan dari air sisa rebusan tahu yang diolah dengan air bari. Yakni air pengganti cuka yang berasal dari air laut yang difermentasi.

Dia bercerita bahwa inovasi tersebut awalnya adalah ide dari Poltekkes Malang. Namun bersama wali murid, para siswa mengembangkan formula tersebut. ”Awal mula kita bikin didampingi guru dan wali, kalau sekarang bikin sendiri sudah bisa,” terangnya.

Pewarta : Eri
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani