Ini Suka Duka Liason Officer (LO) Perlombaan Futsal PIONIR IX

KOTA MALANG- Menjadi Liason Officer (LO) atau volunteer disuatu gelaran pekan olahraga merupakan pengalaman yang berharga. Apalagi, jika ditempatkan dalam cabang olahraga panas seperti futsal atau sepak bola. Pengalaman tersebut menjadi berharga sekaligus menegangkan.

Hal ini terjadi pada liason officer salah satu cabang perlombaan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) IX, yakni Futsal. Dalam perlombaan tersebut, volunteer yang didominasi oleh kaum hawa ini menceritakan pengalaman berkesannya selama tiga hari mengurusi cabang bergengsi di PIONIR IX.

Yang pertama, yakni Khoirinnisa’ Rahmah Rizqiyah. Diceritakannya bahwa ia sempat kebingungan mengurusi pertandingan futsal pada hari pertama. Pasalnya, ia pernah ditegur wasit karena ia tidak mencetang salah satu pemain yang melakukan foul.

“Kan harus fokus ya ini pertandingan kemarin juga ramai. Kalau foul satu aku harus centang nama pemain itu di kertas. Tapi pas itu aku lupa. Ditegur deh sama wasit. Untungnya ia ada catatan sendiri,” ujar Nisa, sapaan akrabnya



Dari pengalaman tersebut, tambah Nisa, kalau dirinya belajar bagaimana untuk fokus dan tetap tenang di tengah riuhnya pertandingan.

“Ya tentunya itu berharga aku juga belajar sih bagaimana cara menjadi official yang profesional apalagi ini futsal ya banyak protesnya,” tutur ia.

Sama dengan pengalaman Nisa, Muzzayanah mengatakan, dirinya pernah dibentak oleh official tim UIN Cirebon ketika menjadi time-keeper dalam pertandingan UIN Surabaya vs UIN Cirebon.

“Aku itu agak gak tau mana yang pelanggaran mesti distop atau gak. Waktu itu aku gak stop. Terus ada yang teriak mbak stop time out time out gitu. Sempet bingung sih tapi aku coba untuk tenang dan permainan lanjut,” tuturnya.

Meskipun begitu, Ana, sapaan akrabnya mengaku senang menjadi bagian dari LO Futsal yang menurut ana animo penontonnya lebih banyak daripada perlombaan lainnya.

“Seru lah. Apalagi pas UIN Malang lawan Surabaya. Di situ ada kebanggan tersendiri bisa lihat temen-temen yang bertanding meskipun kalah,” ujar mahasiswa juruaan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN malang ini.

Berbeda dari kedua teman LO-nya, Titin Nuraini mengatakan, selama gelaran futsal di Futsal Champion Tidar ini dirinya tak pernah melakukan kesalahan yang signifikan.

“Aku gak pernah. Aku selalu fokus sih dalam semua pertandingan ya salah tapi gak pernah sampai yang parah dibentak gitu,” ujar mahasiswa Psikologi UIN Malang ini.

Namun, meskipun begitu, ia tetap agak tegang selama mengawal pertandingan futsal. Pasalnya, lanjut Titin, pertandingan futsal kerap kali terjadi perselisihan antar pemain yang menjurus keperkelahian.

“Waduh ternyata gini ya. Agak takut sih apalagi UIN Surabaya vs UIN Malang itu kan sempat cekcok. Aku pas di dalam lapangan lagi. Untungnya gak sampai tengkar wasit melerai mereka,” ujarnya.

Selanjutnya, Titin mengaku lega dan keluar dari ketegangan. Pasalnya, cabang perlombaan futsal telah berakhir hari ini, Jumat (19/7) yang mana UIN Jakarta keluar sebagai juara, dilanjutkan oleh UIN Riau meraih medali perak, dan juga UIN Surabaya mendapat medali perunggu.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Bob Bimantara Leander