Ini Loh Alasan Situs Sekaran Dikatakan Peninggalan Majapahit

KOTA MALANG- Situs sejarah Sekaran akhir-akhir ini banyak menjadi perbincangan. Pasalnya situs yang terletak di Kecamatan Pakis, Desa Sekarpuro, Dusun Sekaran itu bersinggungan dengan proyek jalan Tol Malang Pandaan.

Padahal, situs berupa gapura batu bata ini disinyalir merupakan situs peninggalan kerajaaan majapahit. Kenapa begitu?

Arkeologi Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan alasan tersebut ke radarmalang.id, Minggu (7/7).

“Ada dua indikator yang bisa dikatakan itu bekas Majapahit, yakni dari sisi Artefaknya dan juga tekstualitas,” ujar pria kelahiran Tulungagung itu.

Dari segi artefaknya, kata Dwi, di situs tersebut, besar batu batanya mirip dengan batu yang ada di candi-candi peninggalan masa Majapahit. “Kita itu bandingkan dengan candi-candi.Ternyata ketebalannya sama yakni sekitar panjang 30-35 cm lebar 20-25 cm dan tinggi 10-15 cm an,” kata bapak dua perempuan ini.

Selain itu, ada juga penemuan ratusan kepingan koin Cina di sekitaran situs. Hal Ini menyiratkan, penemuan koin itu cocok dengan masa Majapahit yang telah menjalankan perdangan International salah satunya dengan kerajaan Cina.

“Waktu abad ke 10-15 pada masa Majapahit itu Cina sudah mulai bertransaksi di sini dengan warga pribumi,” papar Dwi.

Selanjutnya, dari segi tekstualitasnya, kata Dwi, ada sumber prasasti peninggalan Majapahit, yakni Prasasti Waringin Pitu (1447) dan kitab Kakawanin Nagarakertagama (1365) ketika masa kepemimpinan Hayam Wuruk yang digunakan sebagai pendukung identifikasi timnya.

Dari kedua peninggalan teks sejarah itu disebutkan ada sosok pemimpin bernama Kusuma Warddhani. Anak hasil pernikahan Hayam Wuruk dan permaisurinya Paduka Sori itu dimandati untuk memimpin negara bawahan Majapahit, bernama Kabalan.

Nama Kabalan inilah yang menjadi indikator Dwi mengatakan situs tersebut adalah peninggalan kerajaan Majapahit. Sebab, di sebelah barat 50 meter dari situs, tepatnya di seberang sungai kali Amprong terdapat desa yang bernama Kebalon.

“Ini hampir mirip, Kabalan dan Kebalon. Itu juga menjadi indikasi kuat kenapa ini disebut peninggalan Majapahit,” ujarnya.

Selain nama Kabalan, disebut peninggalan Majapahit karena daerah situs tersebut yakni Desa Sekarpuro dan Dusun Sekaran memiliki makna yang sama dengan pemimpin nagara Kabalan, Kusuma Warddhani. “Sekaran dan Sekarpuro ada “Sekar”nya yang berarti kembang dan sama artinya dengan Kusuma yang berarti kembang,” ujarnya.

Dari indikator tekstualitas tersebut, Dwi mengatakan, ada memori samar-samar dari warga sekitar secara turun temurun untuk menamai desa dan dusun tersebut dengan nama yang berkolerasi dengan bunga.

“Kalau di Sejarah itu ada namanya memori samar-samar. Jadi ketika dipimpin oleh Kusuma, mereka kemungkinan menamai desa dan dusun dengan sekar kata lain untuk kembang,” tandasnya.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto:Bob Bimantra Leander
Penyunting: Fia