Ini Kata Pengamat Soal Pencalonan Diri Djarot di Sumut

Keputusan untuk mencalonkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun membuat Tengku Erry Nuradi yang menyandang status petahana berada di posisi yang tak nyaman. 

Meskipun begitu, menurut Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Arifin Saleh Siregar, mantan Gubernur DKI Jakarta itu dinilai masih harus bekerja keras untuk dapat bersaing dengan calon lainnya. 

Dengan begitu, Pilgub Sumut menjadi tontonan yang sangat menarik. “Untuk menang, Pak Djarot bersama partai dan tim suksesnya harus kerja keras. Mereka harus bisa meyakinkan warga Sumut untuk memilihnya,” ucap Arifin, Jumat (5/1).

Yang menjadi masalah dan harus diatasi Djarot menurutnya, adalah masalah sosial yang kurang. “Dia bukan orang Sumut dan sama sekali tidak memiliki kaitan langsung dengan daerah ini,” ujarnya. 



“Dua pilgub sebelumnya, cagub Sumut juga diimpor PDIP dari daerah lain. Namun masih ada kaitannya, yaitu mantan Pangdam dan satu lagi orang Batak. Itu pun keduanya kalah,” jelas dia.

Arifin mengungkapkan, modal Djarot sejauh ini hanya ekspos media massa dan media sosial saat dia memimpin DKI Jakarta, baik bersama Basuki Tjahja Purnama atau Ahok, maupun saat menjabat menjadi gubernur. 

Baginya, itu belum cukup. Apalagi memimpin Blitar atau DKI itu beda dengan Sumut. “Karakter tempat dan waktunya sangat berbeda,” sebutnya. 

Lebih lanjut, Arifin mengkritisi soal pernyataan Mega yang memilih Djarot karena dia merupakan orang dekatnya. Seharusnya kata Arifin, Mega memilih bukan karena dekat dengan dirinya. 

“Yang dipilih seharusnya bukan orang dekat Bu Mega. Tapi orang yang dekat dengan warga Sumut. Toh Bu Mega juga tidak memilih di Sumut,” tegas Arifin. 

Begitupun, Arifin yakin Djarot tetap berpeluang menang. Tetapi dengan syarat, dia dan tim suksesnya harus kerja keras untuk mengambil hati warga Sumut.

Sementara itu, posisi Tengku Erry berada di zona rawan. Karena hingga saat ini baru Partai NasDem yang mengusungnya sebagai Calon Gubernur Sumut. 

PKPI, Golkar dan PKB yang sebelumnya mendukung calon petahana itu putar haluan. Golkar yang memiliki 17 kursi di DPRD Sumut dikabarkan akan mendukung Edy Rahmayadi. Sementara PKB dan PKPI yang masing-masing memiliki 3 kursi dikabarkan akan mendukung JR Saragih.

Kini hanya tersisa Partai Hanura dengan 10 kursi, PPP dengan 4 kursi dan Partai Demokrat dengan 14 kursi yang belum tentukan arah dukungannya. 


(bew/JPC)