Ini Dia Pengakuan Terdakwa Edi Setiawan dalam Kasus OTT di Tipikor

Minta Rp 5 M, Hanya Diberi Dua Kardus Uang

SURABAYA – Pengakuan mengejutkan disampaikan Edi Setiawan, terdakwa kasus operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pemkot Batu, saat sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya kemarin (13/3). Dalam pengakuannya di hadapan Ketua Majelis Hakim HR Unggul, mantan kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemkot Batu, itu menyebut jika Eddy Rumpoko, mantan Wali Kota Batu, sempat meminta Rp 5 miliar ke Yusuf, salah satu pengusaha asal Surabaya. Bahkan, dia yang ditugasi untuk mengambil uang ke rumah Yusuf di Surabaya. Namun, karena saat itu Yusuf tidak ada uang tunai senilai Rp 5 miliar, dia hanya diberi uang dua kardus atau senilai Rp 2 miliar untuk diserahkan kepada Eddy. Edi Setiawan pun sudah menyerahkan ke rumah dinas wali kota.

Pengakuan adanya dua kardus uang yang diserahkan ke ER–sapaan Eddy Rumpoko– itu juga disampaikan Cristiawan, sopir pribadi ER, yang dihadirkan dalam sidang kemarin. Saksi lain yang hadir, yakni Lila Widyastuti, Indra Puspaningsih, dan Widya Denok.

Kepada hakim dan jaksa penuntut umum KPK Feby Dwiyandospendy, Cristiawan menyatakan, pada suatu malam Edi Setiawan datang ke rumah dinas mengirimkan dua kardus. ”Sepertinya memang uang, tapi saya nggak tanya apa itu isinya,” ungkapnya di hadapan majelis hakim.

Mendengar pernyataan itu, JPU pun tak tinggal diam. Feby mencoba terus mendalami apa maksud kardus yang dikirim oleh Edi Setiawan. Cristiawan menyatakan jika Edi Setiawan tidak mengutarakan apa pun, kecuali hanya bilang kepadanya: Untuk ”bapak” atau Eddy Rumpoko. Ketika ditanya dari mana uang tersebut, Cristiawan mengaku tidak mengetahuinya.

”Pertemuan malam itu, ya Pak Edi Setiawan ini titip kardus dan saya masukkan ke kamar sesuai petunjuk bapak (Eddy Rumpoko, Red),” imbuhnya.

Selain itu, Feby juga menanyakan kepada Lila, mantan sekretaris pribadi mantan orang nomor satu di Kota Batu tersebut. Kali ini, JPU agak dibuat kesal dengan pernyataan Lila yang menolak pengakuan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) KPK Nomor 35.

Feby menuding jika perempuan berusia 25 tahun ini saat diperiksa KPK menyatakan jika telah berinisiatif menghapus file-file di laptop milik Yuyun, sekretaris pribadi Eddy Rumpoko yang lama.

Bahkan, dalam BAP tersebut disebutkan jika Lila juga membakar berkas keuangan lama. Hal ini dibuktikan JPU KPK dengan transkrip percakapan antara Yuyun dengan Lila pada 25 Agustus 2017. ”Enggak, saya nggak pernah membakar itu,” kata Lila.

Lila juga dimintai keterangan tentang mobil Toyota Alphard N 507 yang merupakan permintaan Eddy Rumpoko kepada Fillipus Djap, salah seorang terdakwa yang dituduh memberi suap kepada ER. Ditanyai hal itu, Lila hanya menyatakan jika mobil tersebut sudah cukup lama dipakai Eddy Rumpoko. Lagi-lagi, dia mengakui tidak tahu dari mana asalnya.

Merasa cukup dengan pernyataan keempat saksi, akhirnya Unggul pun menanyakan tentang kesaksian.
Tanpa ragu-ragu, Edi Setiawan menyatakan jika dirinya memang mengirimkan dua kardus uang yang berasal dari Yusuf, seorang pengusaha atau orang dekat Eddy Rumpoko. Menurut dia, uang dalam kardus itu merupakan permintaan ER untuk kampanye Dewanti Rumpoko, istrinya.

”Itu untuk amunisi Pilkada 2017, saya akui semua benar. Cuma saya sedikit menyayangkan kalau Pak Cristiawan lupa dengan apa yang saya katakan dulu,” jelas Edi Setiawan.

Sidang yang berjalan sekitar tiga jam itu pun akhirnya ditutup Unggul. Rencananya sidang akan dilanjutkan pada Selasa mendatang (20/3). Kepada Jawa Pos Radar Malang, Edi Setiawan sudah mengakui semua perbuatan gratifikasinya kepada Eddy Rumpoko. Bahkan, dia mengakui jika uang dalam kardus itu didapatkannya dari Surabaya ketika disuruh Eddy Rumpoko menemui Yusuf untuk meminta uang senilai Rp 5 miliar. Namun, Yusuf menolak memberi uang sebanyak itu dikarenakan permintaan terlalu mendadak.

”Akhirnya ya adanya dua kardus itu, langsung saya berikan kepada bapak malam harinya. Saya berani akui semuanya. Semoga Pak ER (Eddy Rumpoko) juga kesatria yang mengakui,” pungkasnya.

Pewarta: NR1
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: NR1